Sosial Budaya

Kedaton Ternate & Bamus Betawi Bertemu: Ini Makna Besar di Balik Pertemuan Dua Budaya Nusantara

Kesultanan Sebagai Modal Sosial
(Fondasi Identitas dan Kohesi Budaya di Era Pergeseran Nilai)
Oleh: Syahrir Ibnu (Kapita Bugis Kesultanan Ternate)

Disampaikan dalam acara dialog Budaya. Kunjungan Muhibah Budaya BAMUS Suku Betawi 1982 di kedaton kesultanan Ternate, Selasa, 25 November 2025

Suasana hangat persaudaraan mewarnai kunjungan Bamus Suku Betawi 1982 bersama para sejarawan, budayawan, dan sastrawan ke Kedaton Kesultanan Ternate. Kunjungan ini disambut oleh Kapita Bugis Kesultanan Ternate yang juga akademisi dan sosiolog Universitas Khairun, yang menegaskan bahwa pertemuan tersebut bukan sekadar agenda seremonial, tetapi silaturahmi peradaban antara dua komunitas besar Nusantara yang sama-sama menjaga akar budaya di tengah derasnya perubahan zaman.

Dalam sambutannya, Kapita Bugis menyampaikan ucapan selamat datang kepada rombongan Betawi dan menekankan makna filosofis dari pertemuan ini. Menurutnya, di Ternate setiap perjumpaan adalah foma jira – ruang yang mempertemukan niat baik, menautkan persaudaraan, sekaligus menghidupkan kembali ingatan kolektif Nusantara.

“Betawi bukan datang sebagai tamu jauh, tetapi sebagai saudara yang sejak lama dekat dalam rasa dan sejarah. Kebudayaan bukan sekadar warisan yang disimpan, tetapi cahaya yang harus dijaga agar tidak redup diterpa zaman,” ujarnya.

Baca Juga: DPW LASQI Malut Resmi Buka Pembinaan Pelatih Qasidah 2025: Cetak Pelatih Profesional Berbasis Syiar & Budaya Lokal

Ia kemudian menguraikan pandangan sosiologis mengenai bagaimana Kesultanan Ternate berfungsi sebagai modal sosial yang menjaga kohesi budaya masyarakat.

Dalam perspektif sosiologi, modal sosial dipahami sebagai jaringan nilai, norma, kepercayaan, dan hubungan yang mengikat masyarakat sehingga mereka mampu bekerja secara kolektif (Putnam, 2020; Coleman, 2019). Modal sosial bukan sekadar “milik”, tetapi “penghubung” yang menguatkan ikatan sosial di tengah tekanan modernisasi.

Kesultanan Ternate menjadi salah satu contoh paling nyata modal sosial yang tetap hidup hingga kini. Ia bukan hanya simbol kejayaan masa lalu, tetapi institusi budaya yang menata relasi sosial masyarakat. Ketika perubahan nilai berlangsung cepat, Kesultanan menjadi jangkar identitas – penjaga ruang moral, simbol kolektif, dan orientasi sejarah yang meneguhkan jati diri masyarakat.

Baca Juga: Kabar Baik! Rute Wings Air Kao–Manado Kembali Aktif Awal Desember 2025

Struktur adat Kesultanan Ternate – mulai dari sistem soa, bobato, hingga kapita – masih hidup dan dihormati. Gelar adat bukan sekadar simbol, melainkan mandat tanggung jawab sosial yang ditopang legitimasi budaya dan spiritual.

Riset menunjukkan bahwa struktur adat yang konsisten mampu memperkuat modal sosial melalui kejelasan norma, legitimasi otoritas, dan mekanisme penyelesaian konflik berbasis kearifan lokal (Haikal, 2018; Supriyanto, 2021).

Bahasa Ternate memuat ingatan kolektif, nilai moral, serta metafora kehidupan masyarakat. Namun bahasa daerah kini menghadapi tantangan besar akibat dominasi media digital dan pengaruh budaya global.

Kesultanan memainkan peran penting dalam merawat ruang sosial tempat bahasa tetap hidup—melalui ritual adat, tradisi lisan, hingga dokumentasi sejarah.

Baca Juga: Tim PKM Unkhair Turun Tangan! Masjid Raya Bacan Siap Direhabilitasi dengan Kajian Teknik Akurat

Tradisi seperti Adat Kololi Kie, Kolano Barakati, serta upacara keagamaan Kesultanan bukan sekadar seremoni, tetapi organisme sosial yang menghidupkan solidaritas masyarakat. Tradisi tersebut adalah mekanisme yang diwariskan untuk menjaga rasa kebersamaan, identitas, dan ketertiban sosial generasi demi generasi (Rahman, 2022; Gaina & Kaunang, 2020).

Di era digital, modal sosial menghadapi tantangan serius:

  • memudarnya identitas budaya generasi muda,
  • disrupsi bahasa daerah akibat penetrasi media global,
  • semakin menurunnya interaksi tatap muka,
  • serta masuknya nilai instan yang menggeser proses budaya yang bersifat ritual dan sakral (Setiawan, 2021).

Dalam situasi seperti ini, Kesultanan berperan penting sebagai cultural movement institution yang menjalankan fungsi modern, mulai dari revitalisasi bahasa, diplomasi antarwilayah, hingga penguatan pendidikan budaya (Meyer, 2018; Fadli, 2020).

Baca Juga: Dulu Kumuh, Kini Jadi Favorit! Pantai Beringin Bangkit Berkat Sentuhan PT SGM Group

Di penghujung acara, Kapita Bugis menegaskan bahwa kekuatan suatu masyarakat tidak hanya ditopang oleh ekonomi dan politik, tetapi oleh nilai terdalam yang mengikat mereka sebagai komunitas.

“Kesultanan Ternate adalah lentera yang menembus kabut perubahan. Ia adalah suara yang mengingatkan asal-usul, tangan yang merangkul perbedaan, dan rumah tempat identitas menemukan kediamannya.”

Selama Kesultanan berdiri sebagai penjaga nilai dan masyarakat menjadi penjaga Kesultanan, maka perjalanan budaya ini tidak akan pudar. Ia akan terus tumbuh sebagai cahaya yang menuntun generasi mendatang menuju masa depan yang lebih manusiawi, beradab, dan setia pada jati dirinya sebagai manusia Nusantara.

Editor: AbangKhaM

Silahkan Berbagi: