Politik Sula, Potret Dinamika Pemilihan DPRD dan Dilema Demokrasi
Dalam proses ini, masyarakat seolah cenderung hanya sebagai pelaku partisipasi politik yang pasif yang hanya menunggu untuk menyalahkan orang yang mereka pilih seiring berjalannya waktu. Hari ini mereka menjatuhkan pilihan pada seseorang dengan berbagai indikator, besok-besok ketika aspirasinya belum terwujud, lahirlah stigma, dianggap tak mampu, dan hari berikutnya sudah pasti dipersalahkan, seperti yang di ungkapkan oleh Bertrand Russell, bahwa “Demokrasi adalah proses dimana orang-orang memilih seseorang yang kelak akan mereka salahkan“. Inilah fakta-fakta politik yang terjadi di Kepulauan Sula secara khusus dan daerah lain secara umum.
Salah satu problem yang belum terpecahkan adalah kurangnya pemahaman dan pendidikan politik yang baik di kalangan masyarakat. Peran serta partai politik untuk mengembalikan demokrasi politik secara filosofi adalah langkah tepat utuk ditempuh. Pendidikan politik yang baik harus dijadikan instrumen utama dalam pesta demokrasi. Disamping mengembalikan nilai demokrasi, pendidikan politik sangat penting untuk membekali masyarakat agar dapat memfilter segala bentuk isu politik yang rawan konflik dan memecah belah masyarakat.
Peran partai politik tidak harus hanya terfokus pada pengkaderan, pada konsolidasi, pada marketing politik dan elektoral saja, melainkan partai politik harus di tempatkan sebagai sekolah politik bagi rakyat. Memberikan edukasi tentang demokrasi dan politik sebagai wadah melahirkan wakil rakyat yang batul-betul amanah dan mampu memperjuangkan nasib rakyat.
Memang tak mudah mencari wakil rakyat yang sempurna di tengah-tengah kuatnya benturan kepentingan politik, di saat fanatisme dan arogansi berlebihan dalam hegemoni kelompok, dominasi masing-masing gerbong dan faksi yang amat kuat. Faktanya, wajah demokrasi politik kita akhir-akhir ini, semakin mempertegas kalau demokrasi dan politik kita, tidak sedang baik-baik saja. Sebagaimana yang pernah diungkapkan oleh M. Yamin Waisale, bahwa “mencari politisi santun, cerdas dan amanah di masa sekarang sama sulitnya dengan mencari perawan di sarang pelacur”,. Namun apakah kita harus apatis? kita harus pesimis? atau dilema? tentu tidak, untuk HAI DO YA FAI, kita masi punya hati, masih punya nurani, punya cinta yang bisa menjadi spirit untuk Sula ke depan yang lebih baik. Harapan-harapan tersebut harus sama-sama kita genggam sebagai pelita untuk menerangi HAI POA BAI.
Besar harapan, semoga Febuari 2024, mereka yang diutuskan rakyat Sula ke gedung parlemen, sejatinya adalah mereka yang bisa menggores tinta di atas kertas. Mereka, orang-orang yang memiliki gagasan kritis untuk dipertengkarkan dalam forum-forum . Mereka yang memiliki kapasitas intelektual, integritas spiritual, dan pembangunan moral. Sehingga nanti, di tangan dan pundak merekalah arah pembangunan kita bisa dituntun. Semoga.
Editor : Abang KhaM
