MENDIAGNOSA KEMUNDURAN HMI
MENDIAGNOSA KEMUNDURAN HMI
Oleh : Suryanto Rauf
( Ketua Umum BPL HMI Cabang Ternate Periode 2023-2024 )
Kemana HMI..?
Jaman tidak pernah menungguh yang diam. Perubahan sebagai satu keniscayaan menjadikan manusia harus menggerakan akal pikiran yang diberikan oleh Allah untuk melakukan inovasi, kreasi serta meningkatkan daya adaptasi untuk mengikuti perubahan zaman atau membuat perubahan di setiap perubahan yang ada. Era destrupsi yang kembali menjadi trending dewasa ini meskipun telah mempengaruhi sector politik, ekonomi dan sosia- budaya yang benar bisa dirasakan, menjadikan pola dan praktik kehidupan konvensional telah berlangsung ratusan tahun tercerabut dari akarnya menuju tatanan baru yang bernafaskan revolusi industry 4.0 dan Sociaty 5.0 .
Pada perjalanannya, tidak hanya sektor-sektor yang telah disebutkan diatas yang berubah, namun juga sector lainnya seperti pendidikan, hiburan dan organisasi masyarakat. Meskipun saat ini belum dirasakan secara signifikan perubahan atau destrupsi terhadap organiasi, namun lambat laun hal itu pasti akan terjadi dimana pola dan konsep organisasi yang telah lama berlangsung akan digantikan dengan pola dan konsep yang baru, sehingga akan merubah tatanan cara kerja untuk mewujudkan tujuan organisasi sebagaimana yang tertuang pada pasal 4 anggaran dasar Himpunan Mahasiswa Islam.
Himpunan Mahasiswa Islam sebagai salah satu organisasi mahasiswa yang berasakan islam telah lama berkecimpung dalam upaya membina kader-kader umat dan bangsa guna mencapai satu tujuan yang mulia yakni terbinanya insan akademis, pencipta, pengabdi yang bernafaskan islam serta bertanggung jawab atas terwujudkan masyarakat adil makmur yang di ridhoi Allah Swt. Dimana dalam kiprahnya itu, HMI telah banyak berhasil menorehkan tinta emas dalam sejarah bangsa Indonesia dan perjuangannya akan tetap berlangsung hingga saat ini dan masa yang akan datang.
Perjuangan HMI yang sampai saat ini (Masa Post Modernisme ) membawah catatan organisasi ini ke dalam perjuangan setiap jaman. Didalam menghadapi era destrupsi dimana destrupsi organisasi belum berkembang dan terjadi seperti halnya dalam bidang ekonomi, politik, social-budaya, serta pendidikan. Namun HMI harus siap dalam menghadapi bahkan mengambil peluang dalam era yang baru tersebut.
Pertama adalah menunggu era destrupsi terhadap organisasi datang dan HMI mengikuti arus destrupsi yang tercipta dimana himpunan tidak akan bisa menjadi pemenang melainkan akan bertahan saja agar tetap eksis karena mengikuti pola yang sudah tercipta dan kedua adalah membangun suatu model destrupsi organisasi yang dimulai dengan HMI sebagai inisiator distrupsi di dalam HMI.
Himpunan Mahasiswa Islam yang telah berdiri lebih dari 78 tahun telah banyak menorehkan tinta emas dalam sejarah Republik ini. Namun, di balik kegemilangan HMI sebagai organisasi kader, kedatangan era distrupsi sedikit banyak akan mempengaruhi pola-pola perkaderan dan nafas perjuangan di HMI. Sedangkan kaderisasi adalah jantung dari Himpunan Mahasiswa Islam.
Oleh karena itu, penyambutan era distrupsi di organisasi kemahasiswaan harus dihadapi oleh HMI dengan persiapan-persiapan berupa pembenahan berbagai aspek keorganisasian. Sebagaimana kata pepatah “ Gagal mempersiapkan sama dengan mempersiapka kegagalan”. Oleh karena itu, kesadaran akan datangnya era destrupsi harus mendorong HMI untuk berbenah, sehingga HMI bukan menjadi organisasi kader yang kelihatan seperti “terpaksa“ mengikuti perubahan zaman. Namun, HMI menjadi Himpunan Mahasiswa Islam yang dapat mengubah Zaman.
Di penghujung abad ke – 21, kita diperhadapkan pada perubahan-perubahan multi dimensi yang cepat. Perubahan – perubahan ini seakan-akan merupakan penjungkir balikan tatanan kehidupan sebelumnya, perubahan itu terjadi pada sistim nilai, termasuk pertimbangan moral yang bersifat imperatif.
Kita menyadari bahwa di dunia ini tidak ada yang tidak berubah, karena yang abadi adalah perubahan itu sendiri. Berarti perubahan itu, maupun proses globalisasi adalah sesuatu yang tidak terelakan.
Pada milenium baru ini, akan tumbuh masyarakat dunia baru dengan ciri yang berbeda dengan ciri-ciri masyarakat yang lama. Membangun masyarakat baru, masa depan tidak mungkin tidak mengandung dua dimensi, yaitu dimensi ideal, dan dimensi pragmatis.
Dari berbaga kritik yang merupakan realitas yang harus diterima HMI, setidaknya HMI hari ini harus mampu mendeskripsikan lagi organisasi untuk dapat meningkatkan keunggulan komparatif sumber daya manusia yang dimilikinya sekaligus eksis di tengah gerakan-gerakan social masyarakat yang sangat akseleratif. Oleh karena itu dalam konteks ini HMI harus berupaya keras untuk melakukan banyak Revitalisasi diri.
Pertama, HMI harus kembali merebut tradisi Intelektualisme; yaitu diantaranya para kader HMI dan pengurusnya harus berprestasi di kampusnya dengan studi tepat waktu dan menghidupkan kembali kajian-kajian ilmiah.
Kedua, mengambil peran populis di tengah-tengah perubahan masyarakat. Hal ini memiliki arti bahwa HMI harus kembali kepada cita-cita awal berdirinya seperti dalam pasal 4 tentang tujuan HMI. Insan akademis dalam AD/ART HMI dijelaskan bahwa seorang kader HMI berpendidikan setinggi-tingginya, berwawasan luar, berpikir rasional, kritis dan objektif, dan sekaligus bertanggung jawab atas terciptanya masyarakat adil makmur dan sejahterah. HMI tidak hanya sekedar bersemedi di kantor-kantornya akan tetapi HMI bersama rakyat membangun peradaban yang kuat.
Selain hal tersebut di atas dalam situasi yang serba sulit untuk menentukan strategi gerakan, HMI sebaiknya memiliki wilayah transformative dan missi korektif. Misi transformative menekankan pada penyadaran sosial politik dan penularan gagasan dan ide-ide demokrasi serta hak asasi manusia. Sedangkan korektif menitik beratkan pada koreksi terhadap berbagai kebijakan dan sikap yang tidak menguntungkan rakyat banyak.
Untuk mewujudkan misi tersebut maka yang harus di lakukan oleh kader- kader HMI secara individu, kader HMI harus menjadi profil kader modern religious. Menjadi kader religious modern tentunya harus menggambarkan profil of religious structure yang menggambarkan personality seseorang atau manusia yang merupakan internalisasi nilai-nilai relegius secara utuh.
Manusia yang modern religious selalu terkait dengan banyak factor di antaranya; Bebas dari kebodohan dan kemiskinan. Kebodohan dan kemiskinan akrab dengan kesesatan, lebih – lebih dalam masyarakat yang masih cenderung materialistik, individualistik, dan hedonistik.
Cara- cara memenuhi kebutuhan hidup dan kekuasaan hidup yang tidak manusiawi telah banyak muncul dalam kehidupan termasuk di lingkungan HMI. Kebodohan yang dimaksud dapat terjadi pada dimensi pengetahuan, motivasi, sikap dan perilaku yang membangun keutuhan karakteristik kader HMI.
Manusia yang modern religious memiliki keahlian yang dapat diartikan sebagai sumbangan partisipasi nyata yang dapat diwujudkan oleh kader. Oleh karena itu antisipasi perubahan keadaan hanya dapat dilakukan oleh kader dari masyarakat terpelajar. Dalam masyarakat terpelajar pada dasarnya dapat dibangun individu belajar, yang selalu mencerminkan keadaan, perubahan-perubahan yang terjadi, kesenjangan yang muncul dan dampak dari perubahan itu, serta alternative untuk mengisi kesenjangan tersebut.
Di usianya yang ke 78 tahun ini dengan banyaknya masalah yang dhadapi oleh keluarga besar HMI di tingkat PB, BADKO, CABANG maupun KOMISARIAT. Penulis berpendapat bahwa dari kaca mata sosiologis, posisi sosial HMI kini sedang tinggi-tingginya, lantaran pilar-pilar besar yang kokoh didalamnya ada Alumni yang menduduki jabatan tertentu. Namun ironisnya, gemerlap prestasi sosial itu justru diikuti oleh menurunnya gradasi HMI, pada berbagai dimensinya. Saat ini, HMI tengah gencar-gencar menerimah kritik. Berbagai kritik itu jika disarikan mengerucut pada 3 hal. Pertama Peningkatan visi Intelektual, kedua penguatan basis, ketiga Modernisasi dan peningkatan kualitas perkaderan.
Peningkatan Visi Intelektual adalah upaya membangkitkan kembali kekuatan intelektual dari kader-kader HMI hukumnya fardhu. HMI harus semakin menyadari bahwa dinamika intelktual kelompok dan organisasi lain semakin berkembang, sementara justru semakin meredup di HMI padahal HMI dulu selalu berada di garda terdepan dalam perkembangan wacana pemikiran. Oleh karena itu HMI harus membangkitkan kembali kekuatan intelektual ini dalam beberapa hal.
Pertama, lingkungan yang kondusif berupa kebijakan organisasi dan komitmen pemimpin organisasi di berbagai tingkatan. Kedua, menyediakan sarana bagi debat pemikiran, mislanya penerbitan jurnal ilmiah dan riset yang terpercaya.
Sementara bentuk-bentuk komitmen intelektual yakni sikap-sikap responsibility harus ditajamkan dengan institusi penyangga yang berdimensi advokasi. Kader-kader HMI harus semakin banyak dikenalkan dan disentuhkan dengan masalah-masalah kemasyarakat sehingga intelektual HMI bukan semata-mata intelektual buku atau teori, akan tetapi, juga dapat diterjemahkan ke dalam upaya kongkrit di masyarakat.
Dengan demikian perkembangan wacana pemikiran yang belakangan sangat intensif dan akseleratif, minimal dapat diikuti oleh HMI. Bahkan kalau memungkinkan HMI justru mampu menjadi lokomotif bagi perkembangan wacana-wacana. Karena dengan jalan ini, upaya untuk menyuarakan idea of progress akan dapat diejahwantakan. Selain itu, ketajaman dan penguasaan wacana pemikiran itu dapat diterjemahkan menjadi kritisisme yang kolektif, konstruktif, dan futuristic.
Penguatan Basis – dalam penguatan basis demi menjaga komitmen kebangsaan dan keislaman maka HMI perlu membangun sinergitas dengan organisasi islam yang lain. Karena dengan jalan ini, upaya membangun ukhuwah islamiyah di masa depan akan semakin terjaga bagi kukuhnya ukhuwah Wathoniyah bersama kelompok cipayung juga. Keduanya penting karena memang menajdi komitmen HMI semenjak lahir.
Hal ini penting bagi upaya memperkuat kembali basis HMI di kampus. Semangat HMI sebagai second campuss akan terwujud bila secara empiric, aktivis HMI benar-benar bersifat alternative dan komplemental dengan dunia kampus. Dalam hal ini HMI harus berfikir dan berusaha keras untuk membangun dinamika kampus yang sehat dan berkualitas, bersama-sama kekuatan kemahasiswaan.
Dalam rangka mendinamisir kebijakan kampus, maka HMI harus mulai mendorong dan menyuarakan pentingnya kehadiran organisasi ekstra universiter di kampus. Kehadiran organisasi ekstra sangat dibutuhkan untuk membangun dinamika kemahasiswaan yang sehat, setidaknya mahasiswa khusunya HMI harus dibekali dengan lima hal penting. Yakni wawasan dan kedalaman ideologis, keterampilan politis, kapasitas intelektual, kemampuan mengembangkan komunikasi sosial, dan kekuatan untuk membangun solidaritas social dari berbagai potensi kemahasiswaan.
Modernisasi organisasi dan peningkatan kualitas perkaderan – Upaya modernisasi organisasi harus menjadi perhatian yang serius. Dimensi- dimensinya bukan hanya hard ware, tetapi juga soft ware dan brain ware. Tidak semata structural tetapi juga kultural. Beberapa hal yang harus mendapatkan perhatian adalah Pertama -mendorong keluarga besar HMI untuk kembali ke- sekertariat dengan segala kapasitanya yang unggul secara pengetahuan entah senior maupun KAHMI. Menurut saya dalam hal ini pengurus KAHMI, BADKO dan CABANG harus memainkan perannya sebagai fasilitator, dan motivator bagi upaya-upaya pembangunan peradaban. Kedua, menumbuhkan kultural riset dan semangat datatif dalam organisasi, ketiga, menguatkan kultur taat asas, dengan peningkatan pemahaman dan loyalitas pada aturan main atau mekanisme organisasi, keempat, meningkatkan kualitas interaksi dan komunikasi baik secara vertical maupun horizontal. Selain forum-forum resmi organisasi, perlu diperbanyak forum-forum alternative yang bermanfaat, kelima, menerbitkan media komunikasi berupa bulletin aktifitas. Hal ini penting bagi sosialisasi, kebijakan-kebijakan organisasi secara lebih kentara sekaligus bermanfaat untuk membangun kesamaan visi organisasi, baik berkaitan dengan persoalan-persoalan ekstern maupun intern organisasi.
Setiap hal-hal yang sudah disebutkan diatas akan jauh lebih efektif jika Perkaderan HMI dikualitaskan. Perkaderan HMI di masa yang akan datang harus benar-benar berkualitas. Dalam bahasa yang cukup menggugah, yakni bagaimana kita senantiasa mengembangkan perkaderan membangun peradaban. Kualitas perkaderan itu sangat dibutuhkan dalam menjawab tantangan di era destruptive, oleh karena itu dibutuhkan kemampuan HMI untuk memajuhkan diri dari formalism perkaderan. Karena formalism perkaderan kemudian hanya dipahami pada sekedar pertrainingan bagi HMI, sekedar pertrainingan adalah reduksi yang sangat berbahaya bagi totalitas perkaderan yang sesungguhnya.
Perkaderan formal penting sebagai sarana untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan adminstratif structural yang bersifat formal serta kerangka-kerangka dasar yang akan dikembangkan lebih lanjut. Sementara perkaderan nonformal dan informal adalah medan yang lebih luas untuk proses penempatan kualitas kader. Intelektualitas, profesionalitas, loyalitas, religiuitas, dan integritas para kader HMI dapat lebih tajam dalam perkaderan yang nonformal dan informal, seperti Up- Greding, Diskusi, Seminar, Riset dan sebagainya.
Terakhir adalah komitmen HMI pada islam sebagai ajaran dan ummat islam sebagai entitas empiriknya musti benar-benar berupaya diwujudkan. Ini bisa dilakukan dengan beberapa hal seperti melanjutkan upaya pembangunan pembaharuan pemikiran islam di Indonesia dan ini hanya mungkin jika HMI kembali membangkitkan wacana-wacana keislaman. Melanjutkan bukan berarti mengikuti garis-garis pemikiran yang selama ini berkembang, seperti gaya Nurcholis Majid, tetapi, lebih dari itu justru mampu mengkritisi perbagai ragam pemikiran yang berkembang. Termasuk bagaimana mencoba meramunya menjadi wajah baru yang lebih derivative dan implementatif.
Karena problematika pemikiran islam saat ini adalah bagaimana menderivasikan pemikiran-pemikiran besar itu menjadi teori-teori sosial. Karena hanya dengan teori sosial yang kuat, maka proses sosial terbuka untuk dilakukan, HMI harus memperjelas “ identitas empiric “ ditengah dunia kemahasiswaan. Ini penting untuk menangkis gejala akhir-akhir ini yang mulai berkembang di berbagai kampus umum maupun kampus islam yang mengatakan “Islam Yes, HMI No“. Meningkatkan kegandrungan mahasiswa pada spiritualistas dan meningkatkan praktik keberagaman di kampus, tidak pararel dengan peningkatan kualitas dan kuantitas dalam rekrutmen kader HMI. Kecenderungan ini muncul karena HMI dikesankan sebagai tidak jelas keislamannya secara empiric, HMI juga harus menguatkan Ruh spiritualitas dalam dinamika organisasi untuk mengimbangi perkembangan rasionalitas yang kadang kala terlalu jauh. Selanjutnya HMI akan tetap eksis dan bangkit kembali apabila HMI mampu melakukan perubahan seperti agenda-agenda antisipasi perubahan yang sudah dibahas sebelumnya. Yakusa.
Editor: AbangKhaM|Malutcenter.com
