Belajar dari Luka Halmahera: Konflik Tak Pernah Menang, Hanya Menyisakan Duka
“Perspektif Pemuda dalam Menolak Konflik”
Penulis: Abdul Agis
Tidak ada manusia yang menyukai konflik – baik dalam hubungan personal maupun kehidupan sosial. Setiap orang mendambakan hidup yang tenang, membangun relasi yang baik, dan meninggalkan kenangan yang indah, bukan luka yang sulit disembuhkan.
Namun, konflik adalah bagian tak terpisahkan dari kehidupan manusia. Ia bisa muncul dalam diri sendiri, keluarga, lingkungan sosial, bahkan dalam skala yang lebih luas seperti perbedaan suku, agama, budaya, hingga kepentingan politik.
Pemikir Jerman, Jürgen Habermas, menjelaskan bahwa konflik terjadi karena perbedaan kepentingan, nilai, dan identitas dalam masyarakat. Ia membagi konflik ke dalam beberapa bentuk, mulai dari konflik sistemik antara negara dan masyarakat, konflik dalam kehidupan sehari-hari, hingga konflik identitas yang sering kali melibatkan isu etnis dan agama.
Baca Juga: Cegah Konflik Meluas, Pemda dan Polres Haltim Kumpulkan Tokoh Adat hingga Kades
Bagi Habermas, jalan keluar dari konflik bukanlah kekerasan, melainkan komunikasi. Ia menekankan pentingnya ruang publik yang terbuka dan komunikasi deliberatif—yakni dialog yang inklusif, di mana semua pihak memiliki kesempatan yang sama untuk menyampaikan pandangan hingga mencapai kesepakatan bersama.
Sejarah telah membuktikan, konflik yang berujung kekerasan hanya melahirkan penyesalan. Ia merenggut nyawa, memisahkan keluarga, dan menghancurkan harta benda. Pada akhirnya, tidak ada pihak yang benar-benar menang.
Sebagai generasi muda Maluku Utara, yang lahir di tengah konflik sosial pada 1999–2000 di Halmahera, pengalaman itu menjadi luka kolektif yang tidak mudah dilupakan. Tragedi tersebut seharusnya menjadi pelajaran berharga bahwa konflik tidak pernah menjadi solusi, melainkan sumber penderitaan yang berkepanjangan.
Baca Juga: Cegah Kanker Serviks, ASN ATR/BPN Antusias Ikuti Vaksinasi Murah Sejak Awal 2026
Pengalaman itu mengajarkan banyak hal – tentang kehilangan, tentang arti kemanusiaan, dan tentang pentingnya menjaga persaudaraan. Sebagai manusia yang dianugerahi akal dan nilai-nilai budaya, kita seharusnya lebih bijak dalam menyikapi perbedaan.
Dialog dan diskursus harus menjadi jembatan utama dalam menyelesaikan setiap persoalan. Generasi hari ini – milenial, Gen Z, hingga generasi Alpha – tidak lagi menginginkan konflik berkepanjangan. Di era digital, hubungan bisa dibangun tanpa batas ruang dan waktu, bahkan lintas identitas.
Konflik yang mengakar tidak perlu diwariskan dari generasi ke generasi. Justru, mempertahankan konflik adalah bentuk kelemahan yang hanya memperpanjang penderitaan.
Baca Juga: Wamen ATR/BPN Tegaskan: Pelayanan Pertanahan Harus Prioritas, Bukan Sekadar Formalitas
Zaman telah berubah. Cara pandang generasi pun ikut berkembang. Tidak ada manfaat dari konflik yang terus dipelihara. Tanpa konflik pun, kehidupan akan tetap berjalan.
Karena itu, pemerintah dan masyarakat harus bersinergi dalam menciptakan perdamaian. Rasa aman dan kebersamaan harus dibangun dari tingkat individu hingga komunitas yang lebih luas.
Nilai toleransi, saling menghargai, dan semangat kebersamaan harus terus dijaga. Jangan sampai masyarakat mudah terprovokasi oleh isu-isu yang dapat memecah belah persatuan.
Pada akhirnya, perdamaian bukan sekadar harapan – melainkan tanggung jawab bersama.
Editor: AbangKhaM
