Kemarau Panjang di Halut, Puluhan Tanaman Pala, Cengkeh hingga Kelapa Terancam Mati
HALUT – Kemarau panjang yang melanda Kabupaten Halmahera Utara (Halut), Maluku Utara, selama tiga hingga empat bulan mulai berdampak serius terhadap tanaman perkebunan milik warga.
Puluhan hingga ratusan tanaman tahunan maupun tanaman yang telah memasuki masa produksi dilaporkan menguning, layu, bahkan mati akibat kekurangan air.
Pantauan di salah satu kebun milik warga di Desa Kao, Kecamatan Kao, Selasa (26/8/2026), terlihat sejumlah tanaman mengalami kekeringan. Tanaman seperti pisang, pala, cengkeh, dan kelapa tampak mulai layu, menguning, hingga sebagian daunnya berguguran.
Baca Juga: Kebakaran Meluas di Galela, Kebun Warga Hangus hingga Dekati Permukiman
Pemilik kebun, Om Berd Oranye, mengatakan kemarau panjang telah menyebabkan banyak tanaman yang selama ini dirawatnya terancam mati.
Menurutnya, tanaman yang terdampak di antaranya sekitar 57 pohon pala, 39 pohon cengkeh, dan 29 pohon kelapa, belum termasuk tanaman lainnya yang berada di kebunnya.
“Tanaman pala sudah kurang lebih 57 pohon, cengkeh 39 pohon, kelapa 29 pohon, belum ditambah dengan tanaman lainnya,” kata Om Berd.
Berbagai upaya telah dilakukan untuk menyelamatkan tanaman. Salah satunya dengan menyiram tanaman secara manual menggunakan air yang diangkut menggunakan kendaraan roda dua.
Baca Juga: Tamu Rakernas JKPI Bakal Serbu Oleh-Oleh Ternate, Olahan Kenari Jadi Incaran
Namun, upaya tersebut belum mampu mengatasi dampak kekeringan. Tingginya suhu dan kondisi kemarau yang berlangsung cukup lama membuat tanaman tetap mengalami kekurangan air.
“Saya sudah melakukan upaya sendiri dengan cara menyiram tanaman pala, cengkeh, kelapa, tetapi sama saja, tetap mati. Saya tidak sanggup setiap hari pagi dan sore menyiram terus, tenaga saya tidak sanggup,” ujarnya.
Bahkan, sejumlah tanaman pala dan cengkeh yang sebelumnya telah menghasilkan buah kini ikut mati. Kondisi tersebut membuat Om Berd mengaku mengalami kerugian karena tanaman yang selama ini menjadi sumber penghasilan tidak dapat dipertahankan.
“Pala, cengkeh yang sudah saya panen buahnya sudah mati karena kemarau panjang. Saya rugi sekali. Saya berharap pemerintah daerah bisa membantu kami dalam upaya penanganan tanaman kami ini,” ungkapnya.
Baca Juga: Haltim Terima Mobil Damkar Buatan Korea Selatan dari Kemendagri, Siap Perkuat Layanan Darurat
Ia berharap pemerintah daerah dapat memberikan perhatian dan bantuan kepada petani yang terdampak kemarau, terutama dalam penyediaan akses air atau langkah penanganan untuk menyelamatkan tanaman perkebunan masyarakat.
Selain dampak terhadap tanaman, Om Berd juga mengingatkan masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran selama musim kemarau.
Ia meminta warga tidak melakukan pembakaran lahan atau kebun secara sembarangan karena kondisi lahan yang kering dapat membuat api dengan cepat menyebar dan menimbulkan kebakaran yang lebih luas.
Reporter: Sadam A.
Editor: AbangKhaM
