Sastra

AMBERTO DAN PERCAKAPAN DI PERAPIAN

Mula-mula dia diterima untuk menjalankan anak perusahaan milik majikannya, Amberto berpikir laki-laki gendut itu tidak tamat sekolah. Karena lagaknya seperti bos-bos mafia di film-film yang sedang memberi perintah kepada anak buahnya. Belakangan baru ia tahu kalau bapak gendut itu seorang doktor. Lulusan luar negeri di kampus ternama, di Inggris. Amberto hanya tertunduk. Seakan-akan darah di tubuhnya berhenti mengalir. Tak masuk akal. Orang yang punya gelar tinggi bahkan tidak mengerti cara menyapa.
“Saya di jalan Jenderal Sudirman. Gimana, pak?”
“Kamu ke kantor sekarang, langsung ke ruangan saya.”
“Oke, pak!”

Jalan Jenderal Sudirman tak berjauhan dengan lokasi kantor. Sekitar satu kilometer. Kurang lebih sepuluh menit, kalau tidak macet, untuk sampai di gedung tiga lantai bertuliskan Sawon Group itu, tepat di sisi kanan dekat pintu utama.
Tok..tok..tok
“Masuk Ber.”
Ruangan kerja terbesar dan termewah. Amberto melangkahkan kakinya, masuk. Praaaakk, ia sengaja menghentakan kakinya sedikit keras setelah melewati pintu. Bosnya hanya menggeleng-geleng kepala. Tapi di kepala Amberto, ada gumpalan-gumpalan keresahan yang ingin ia lemparkan ke wajah bosnya. Ia ingin sekali bilang, kenapa karyawan selalu terjerat kemiskinan sedangkan pak bos yang hanya duduk manis, tak pernah kekurangan dan malah semakin kaya? Mungkin bukan cuma Amberto, orang lain yang bekerja di perusahaan Sawon akan merasakan hal serupa.

“Ini hadiah buat kamu..”
Direktur perusahaan menyerahkan sebuah kunci mobil kepada Amberto saat ia menarik kursi yang berhadapan dengan meja kayu melambangkan kemegahan itu untuk duduk. Dan wajah Amberto yang tadinya lesuh, sekejap berubah menjadi memerah. Ia meremas jari-jari tangan kanannya. Seperti sedang bersiap menonjok wajah laki-laki gendut di depannya. Tapi keinginannya itu ia kubur dalam-dalam di relung hati karena kata-kata ayahnya sehari sebelum menghembuskan nafas terakhir lima tahun lalu, di Bandung. Kata-kata itu sudah terpasung di pikirannya : Jangan menghina orang yang belum mengerti!
“Kenapa mobil mahal ini untuk saya?”
“Kok kamu malah nanya gitu? Ambil aja Ber, ini hadiah dari kerja keras kamu..”
“Pak, saya tidak pantas.. Saya tidak berhak terima mobil ini..”
“Loh, kenapa?
“Pak, menurut bapak, saya kerja keras dan itu betul adanya”, tanpa sadar nada bicara Amberto sudah seperti Menara Eiffel, menjulang tinggi, “Tapi masih ada orang lain yang bekerja lebih keras dari saya. Pak lihat, karyawan bapak, buruh yang bapak pekerjakan di lokasi proyek. Mereka banting tulang siang malam, tapi orang-orang menganggap mereka pekerja kasar. Mereka bekerja tanpa istirahat. Dari mereka ada yang sakit tapi berusaha kuat dan tetap bekerja, karena ada keluarga yang harus mereka nafkahi. Pak tahu sendiri, tanpa mereka, semua proyek yang bapak menangkan, tidak akan bisa selesai..”

Sejenak sang direktur tak berkata apa-apa. Terdiam bak orang mati. Ruangan jadi hening. Amberto terpaksa meluapkan setumpuk kekesalan yang ia pendam sejak lama. Keterlaluan! Bagi Amberto, lelaki gendut itu sudah kelewat batas. Lelaki gendut itu tidak saja menghina Amberto, tapi juga menghina para pekerja yang lain.
“Baiklah Ber. Maafkan saya..” Lirih.

Silahkan Berbagi: