AMBERTO DAN PERCAKAPAN DI PERAPIAN
Malam itu malam yang melelahkan. Namun Amberto tidak segera merebahkan tubuh. Ia beres-beres di kamar dan tak lama kemudian keluar. Dan langsung ke dapur. Meracik kopi, kopi Toraja yang ia bawa dari Makassar. Amberto tak pernah ketinggalan kopi setiap kali mengunjungi kota-kota tempat proyek Sawon Group. Ia selalu mencari kopi yang dibikin di kota tersebut. Kopi khas di kota yang ia datangi meski tanpa menginap walau semalam. Sekalipun bukan penikmat kopi kelas berat, Amberto mungkin sedang menuju kesana. Sekalipun tak perlu label apapun untuk menyeruput kopi, dan kopi sendiri tidak menuntutnya, Amberto tetap bagian dari sekian orang di dunia yang menyukai kopi.
Di perapian, teman Amberto sedang duduk. Rambutnya disisir rapi. Namun sudah kelihatan beruban. Beberapa helai. Di tangan kanannya ada sebatang rokok, tanpa filter di ujungnya. Sedari tiba bersama Amberto, dan setelah ia bertegur sapa dengan seorang perempuan yang sangat berjasa bagi Amberto ini, melempar senyum padanya, tanpa berlama-lama ia menyusuri ruang tamu untuk sampai di perapian. Seperti biasa, ia menghadap ke api yang menyala-nyala. Kayu-kayu kering itu terbakar. Tapi untung saja sepi dari angin. Kalau tidak, tidak butuh waktu lama untuk menikmati kehangatan malam itu. Api akan melahap kayu-kayu kering tanpa ampun. Karena bantuan angin tentu saja.
“Paman..” panggil Amberto. Ia berjalan ke perapian sambil memegang dua cangkir kopi. Berwarna putih. Polos. Bagian bawah cangkir dilapisi kayu berbentuk bulat. Setebal piring. Seukuran cangkir. Mulut cangkir dibiarkan tanpa penutup. Ia sengaja tidak menutupnya. Katanya, untuk merasakan rasa kopi, harus menyingkirkan panasnya air yang sudah bersemayam kopi didalamnya.
Teman Amberto menyahut pelan. Ia pun berdiri. Mengatur posisi meja. Dan memindahkan beberapa kayu yang berserakan ke balik lemari, di samping batu-batu kecil yang melingkari tempat kayu-kayu yang dibakar.
Amberto belum juga duduk. Ia kembali lagi ke dapur. Padahal minuman berwarna hitam dan kental itu sudah diatas meja. Siap untuk diseruput. Temannya mengira Amberto lupa sesuatu yang selalu Amberto bawa kemana-mana. Sesuatu yang ia ceritakan tatkala bertemu kapan saja. Sesuatu yang membuatnya ingin berhenti dari pekerjaan. Dan keluar kota. Melalang buana. Meninggalkan majikannya yang hanya mementingkan perutnya sendiri itu. Amberto selalu ingin berpamitan kepada ibunya, untuk menemui orang-orang yang bisa menjawab beribu-beribu pertanyaan dikepalanya. Dan juga berpamitan di tetangga, terutama Om Albert dan Tante Sarah yang acapkali membantunya merawat ibu jika jatuh sakit. Suami istri itu sudah dianggap keluarga oleh Amberto dan ibunya. Apalagi setelah Amberto kehilangan ayahnya, dua orang ini tak pernah bosan-bosan datang ke rumah walau sekedar bersenda-gurau. Dan kadang-kadang mengantar makanan yang mereka masak sendiri.
“Maaf Paman. Saya lupa matikan lampu..”
Tempat sekitar perapian berubah gelap. Terkecuali di sebuah rumah kecil yang dibawah atapnya Amberto dan teman yang ia sapa paman itu berada. Tiang rumah terbuat dari bambu tua. Dindingnya hanya tertutup setengah dari atas tanah. Luasnya seukuran kamar Amberto. Ketika Amberto mendirikan tempat menyeruput kopinya ini, ia ingin menciptakan suasana sewaktu masih hidup di kampung. Begitulah Amberto. Dan malam semakin larut saja. Api yang menerangi mereka berdua itu seolah tak mau beranjak. Percikan cahayanya menembus dimana-mana.
Sambil meraih gelas, Amberto mengatakan, percakapan kita nanti cukup saya dan Paman saja yang tahu, tidak usah telinga ibu mendengarnya. Sang paman menggeleng kepala. Pertanda mengerti.
“Paman, bagaimana caranya saya bisa mengenal Tuhan?” Amberto menatap temannya dalam-dalam. Matanya tak berkedip sama sekali. Namun orang yang ia panggil paman itu hanya menyeruput kopi dan mengepul asap rokok, tak menghiraukan. []
Ternate, Mei 2025
Editor: AbangKhaM | Malutcenter.com
