Tadabbur Ramadan: Pelajaran Isra’ Mi‘raj dalam Juz 15, Perjalanan Spiritual Menuju Allah
Oleh: Prof. Dr. M. Djidin Dahlan (Dosen IAIN Ternate)
Juz ke-15 Al-Qur’an dimulai dari Surah Al-Isra ayat 1 hingga Surah Al-Kahf ayat 74. Juz ini dibuka dengan kalimat agung:
سُبْحٰنَ الَّذِيْٓ اَسْرٰى بِعَبْدِهٖ لَيْلًا
“Maha Suci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam…”
Ayat tersebut bukan sekadar kisah sejarah, melainkan menggambarkan puncak perjalanan spiritual Nabi Muhammad SAW. Peristiwa Isra’ Mi‘raj menjadi isyarat bahwa ketika bumi terasa sempit, langit justru terbuka.
Saat menghadapi kebencian, penghinaan, dan penolakan dari sebagian tokoh Quraisy, Nabi Muhammad SAW justru dimuliakan oleh Allah SWT dengan perjalanan agung dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha, hingga menembus Sidratul Muntaha.
Baca Juga: Lansia Hilang 14 Hari di Bacan Selatan Ditemukan Meninggal di Kebun Warga
Dari peristiwa itu, umat Islam belajar bahwa kemuliaan tidak diukur dari popularitas dunia, melainkan dari kedekatan kepada Allah. Perjalanan Nabi SAW tersebut juga menjadi simbol bahwa ruh yang bersih mampu melampaui batas-batas materi.
Peristiwa Isra’ Mi‘raj juga mengajarkan keterkaitan antara ayat qauliyah (wahyu yang tertulis) dan ayat kauniyah (tanda-tanda kebesaran Allah di alam semesta). Langit, malam, dan perjalanan kosmik yang terjadi dalam Isra’ Mi‘raj semuanya menjadi tanda kekuasaan-Nya.
Dalam peristiwa tersebut pula, umat Islam menerima hadiah terbesar, yaitu shalat. Jika Nabi Muhammad SAW naik ke langit dalam perjalanan Mi‘raj, maka shalat menjadi tangga ruhani umat Islam setiap hari.
Shalat bukan sekadar gerakan fisik, tetapi merupakan mi‘raj batin (معراج المؤمنين).
- Dari lalai menuju kesadaran
- Dari gelisah menuju ketenangan
- Dari dunia menuju hadirat Allah
Baca Juga: Nelayan Maluku Utara Didorong Manfaatkan KUR, Gubernur Sherly: Peluang Naik Kelas Terbuka
Juz ke-15 juga menegaskan pentingnya tauhid, larangan syirik, kewajiban birrul walidain (berbakti kepada orang tua), keadilan sosial, serta menjaga lisan. Nilai-nilai tersebut menjadi fondasi spiritual sebelum seseorang mencapai derajat kedekatan dengan Allah.
Memasuki Surah Al-Kahf, Al-Qur’an menceritakan kisah para pemuda beriman yang memilih mempertahankan iman di tengah tirani kekuasaan. Mereka memilih berlindung di gua daripada hidup nyaman di istana yang penuh kesyirikan.
Gua yang gelap berubah menjadi cahaya karena iman. Waktu ratusan tahun terasa singkat karena penjagaan Allah. Dalam kisah ini, terlihat harmoni antara wahyu dan realitas alam: matahari yang condong, gua yang terlindungi, serta tidur panjang yang menjadi tanda kebesaran-Nya.
Ayat qauliyah menjelaskan, sementara ayat kauniyah membuktikan.
Baca Juga: Warga Wasile Selatan Serbu Pangan Murah, Paket Sembako Rp50 Ribu dari Gubernur Disambut Antusias
Juz ke-15 mengajarkan bahwa perjalanan sejati manusia adalah perjalanan menuju Allah.
Kemuliaan diraih melalui penghambaan (عبده), shalat menjadi mi‘raj harian, dan iman yang kokoh mampu menundukkan waktu serta keadaan.
Isra’ Mi‘raj juga mengingatkan bahwa setelah fase luka dan penolakan, Allah menyiapkan fase kemuliaan. Setelah peristiwa menyakitkan di Thaif, Allah memuliakan Nabi dengan perjalanan hingga Sidratul Muntaha.
Juz ini mengajak umat Islam untuk merenung:
- Sudahkah kita melakukan “Isra’”, meninggalkan maksiat?
- Sudahkah kita melakukan “Mi‘raj”, naik menuju akhlak yang lebih mulia?
Semoga kita termasuk hamba yang mampu membaca ayat-ayat Allah, baik yang tertulis dalam mushaf maupun yang terbentang di alam semesta—dari bumi menuju langit, dari diri menuju Ilahi.
اللَّهُمَّ أَرِنَا الْحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ
“Ya Allah, perlihatkanlah kepada kami kebenaran sebagai kebenaran, dan anugerahkanlah kepada kami kemampuan untuk mengikutinya.”
آمين يا رب العالمين
Makassar, Kamis
15 Ramadan 1447 H / 5 Maret 2026
