Daerah

Dari Pelatihan ke Kemandirian, Difabel Ternate Didorong Jadi Wirausaha

Ternate – Lembaga Kursus dan Pelatihan (LKP) Serba Usaha di bawah naungan Ikatan Keluarga Besar Disabilitas Makugawene menggelar pelatihan kompetensi tata busana bagi penyandang disabilitas di Ternate.

Kegiatan ini dilaksanakan bekerja sama dengan Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Provinsi Maluku Utara sebagai bagian dari upaya pemberdayaan masyarakat rentan, khususnya penyandang disabilitas dan komunitas di wilayah kepulauan.

Mentor LKP Serba Usaha, Nurjannah, menjelaskan bahwa pelatihan ini bertujuan meningkatkan keterampilan peserta agar mampu bersaing di dunia kerja maupun menjadi tenaga kerja mandiri.

Baca Juga: Tak Lagi Tunai, Pajak di Halut Segera Bisa Dibayar via Transfer

“Saya dipercaya memberikan pelatihan kepada masyarakat rentan, termasuk penyandang disabilitas, untuk mendukung penguatan layanan ketenagakerjaan di Maluku Utara,” ujarnya, Selasa (14/4/2026).

Pelatihan yang berlangsung selama lima hari ini diikuti 10 peserta, yang terdiri dari penyandang disabilitas, orang yang pernah mengalami kusta (OYPMK), serta perempuan dari kelompok rentan.

Menurut Nurjannah, pelatihan ini tidak hanya berorientasi pada peningkatan keterampilan menjahit, tetapi juga membuka peluang kerja di sektor garmen maupun usaha mandiri.

Ia menambahkan, metode pelatihan disesuaikan dengan kondisi peserta agar mudah dipahami, termasuk bagi penyandang disabilitas tuli dan bisu. Sejauh ini, sejumlah peserta binaan LKP Serba Usaha telah mampu mandiri secara ekonomi.

Baca Juga: 116 Bidang Tanah Terdampak Konflik di Halteng, Sertipikat Pengganti Dikebut 2 Minggu

Selain pelatihan, dukungan fasilitas seperti mesin jahit juga menjadi bagian penting untuk memastikan keterampilan yang diperoleh dapat langsung diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

“Pelatihan ini bukan sekadar formalitas, tetapi bagaimana ilmu yang didapat bisa diimplementasikan dan memberi manfaat nyata,” tegasnya.

Salah satu peserta, Nisma Taher, mengaku sangat terbantu dengan adanya pelatihan tersebut, terutama sebagai OYPMK.

“Kami merasa sangat terbantu. Dari pelatihan ini, saya bisa belajar menjahit untuk membantu ekonomi keluarga,” ungkapnya.

Baca Juga: Di Hadapan Bahlil, Gubernur Malut Ungkap Ketimpangan di Balik Pertumbuhan 34%

Ia berharap durasi pelatihan ke depan dapat diperpanjang agar peserta lebih maksimal dalam menguasai keterampilan.

Hal senada disampaikan peserta lainnya, Julaeha Abdullah, yang menilai pentingnya dukungan lanjutan, terutama dalam penyediaan alat dan pelatihan berkelanjutan.

“Kalau sudah dilatih tapi tidak punya alat, sulit untuk berkembang. Kami berharap ada kelanjutan program agar peserta bisa benar-benar mandiri,” ujarnya.

Ia juga mendorong pemerintah untuk melakukan evaluasi dan pengembangan program, sehingga peserta yang telah terlatih dapat berkembang secara ekonomi bahkan membuka lapangan kerja baru.

Reporter: Randi I.
Editor: AbangKhaM

Silahkan Berbagi: