Bukan Jabatan, Ini yang Membuat H. Bur Tak Pernah Dilupakan
“Ketulusan Melampaui Kekuasaan”
Oleh: Syahrir Ibnu
Sejarah selalu mencatat banyak nama besar yang pernah duduk di kursi kekuasaan. Namun tidak semua nama itu benar-benar hidup dalam ingatan masyarakat. Sebagian hanya menjadi bagian dari arsip pemerintahan, dikenang sesaat lalu perlahan dilupakan oleh waktu. Kekuasaan memang mampu membuat seseorang dikenal, tetapi tidak selalu mampu membuatnya dicintai.
Yang tetap hidup dalam hati rakyat bukanlah semata jabatan, melainkan ketulusan yang pernah mereka rasakan.
Itulah sebabnya mengapa sosok Almarhum Dr. H. Burhan Abdurrahman atau yang akrab disapa H. Bur, masih terus dikenang oleh masyarakat Kota Ternate hingga hari ini. Bukan karena beliau pernah menjadi wali kota, tetapi karena beliau meninggalkan sesuatu yang jauh lebih penting daripada kekuasaan: jejak kemanusiaan.
Baca Juga: ATR/BPN–KPK Tunjuk Sulut Jadi Pilot Project, Gubernur: ‘Masalah Tanah Harus Selesai!
Di zaman ketika banyak orang mengejar kehormatan melalui simbol, pencitraan, dan kemewahan, H. Bur justru mengajarkan bahwa pemimpin tidak harus berdiri jauh di atas rakyat untuk dihormati. Ia hadir sederhana, dekat, dan tidak membangun jarak dengan masyarakat. Kesederhanaannya menjadi bahasa yang mudah dipahami rakyat kecil. Kehadirannya menghadirkan rasa teduh, bukan rasa takut.
Barangkali di situlah letak perbedaan antara pemimpin yang hanya memegang jabatan dengan pemimpin yang benar-benar hidup dalam hati masyarakat. Jabatan bisa menghadirkan kekuasaan, tetapi ketulusanlah yang menghadirkan cinta dan penghormatan.
Dalam banyak kesempatan, H. Bur tampak tidak sedang mempertontonkan kekuasaan. Ia lebih sering hadir sebagai bagian dari masyarakat itu sendiri. Ia mendatangi rakyat tanpa sekat formalitas yang berlebihan. Ia memahami bahwa tugas pemimpin bukan sekadar mengatur pemerintahan, tetapi juga merawat rasa kemanusiaan di tengah masyarakat.
Baca Juga: BPN Buka di Hari Libur, Warga Antusias: Program PELATARAN Dinilai Sangat Membantu!
Salah satu warisan paling membekas dari kepemimpinannya adalah program Barifola. Bagi sebagian orang, Barifola mungkin hanya dipahami sebagai program renovasi rumah warga. Namun sesungguhnya, nilai terbesar dari program itu bukan terletak pada rumah yang dibangun, melainkan pada hati manusia yang dipersatukan.
Barifola menghidupkan kembali semangat gotong royong yang mulai memudar di tengah kehidupan modern yang semakin individualistik. Orang-orang datang membantu bukan karena keuntungan pribadi, tetapi karena kesadaran bahwa penderitaan sesama tidak boleh dibiarkan menjadi beban sendiri. Di situlah kemanusiaan menemukan maknanya.
H. Bur seakan ingin mengajarkan bahwa pembangunan sejati bukan hanya tentang beton, jalan, dan gedung-gedung megah. Pembangunan yang paling penting adalah membangun kepedulian, solidaritas, dan rasa saling memiliki di tengah masyarakat.
Baca Juga: Tak Perlu ke Kantor! Cek Status Sertipikat Tanah Kini Bisa Lewat HP dengan Sentuh Tanahku
Lebih dari itu, beliau juga memahami bahwa sebuah kota tidak cukup dibangun dengan infrastruktur semata. Kota membutuhkan nilai moral, spiritualitas, dan kesejukan batin agar masyarakatnya tidak kehilangan arah. Karena itu beliau begitu dekat dengan aktivitas keagamaan, masjid, majelis ilmu, dan kehidupan umat. Baginya, agama bukan sekadar simbol politik atau formalitas kekuasaan, tetapi sumber nilai yang menjaga harmoni sosial masyarakat.
Hari ini kita hidup di tengah zaman yang sering mengukur keberhasilan manusia dari jabatan, kekayaan, dan popularitas. Padahal semua itu hanyalah titipan yang memiliki batas waktu. Jabatan akan selesai. Kekuasaan akan berganti. Popularitas akan memudar. Tetapi satu hal yang tidak mudah hilang adalah kebaikan yang pernah diberikan kepada manusia lain.
H. Bur telah memberi pelajaran penting bahwa manusia besar bukanlah mereka yang paling lama berkuasa, melainkan mereka yang paling banyak meninggalkan manfaat bagi sesama.
Baca Juga: Tangis Pecah di Ternate, Haji Bur Dilepas dengan Penuh Haru dan Penghormata
Kepulangan beliau ke tanah Ternate seakan menjadi pengingat bahwa pada akhirnya manusia akan kembali ke tanah yang pernah ia cintai dan perjuangkan. Dalam budaya Timur, pulang bukan sekadar perpindahan jasad, tetapi perjalanan kembali menuju akar pengabdian dan sejarah hidup seseorang.
Kini beliau memang telah pergi. Namun ada sesuatu yang tetap tinggal, yaitu doa masyarakat, cerita tentang kebaikannya, dan keteladanan yang terus dikenang lintas generasi.
Sesungguhnya, manusia tidak benar-benar mati ketika jasadnya dikuburkan. Manusia akan benar-benar hilang ketika kebaikannya berhenti hidup dalam ingatan orang lain.
Dan H. Bur telah meninggalkan satu pelajaran penting bagi kita semua. Bahwa ketulusan adalah warisan paling abadi yang dapat ditinggalkan seorang pemimpin kepada rakyatnya.
Editor: AbangKhaM
