Pendaki Konten – Antara Eksistensi dan Evakuasi
PENDAKI KONTEN – ANTARA EKSISTENSI DAN EVAKUASI
Oleh: Alfath Satria Negara Syaban
PhD Candidate in Geography and the Environment
University of Alabama – USA
Dunia pendakian gunung hari ini tak lagi semata soal keberanian dan kecintaan pada alam, ia sudah berubah menjadi arena sosial di mana eksistensi dinilai lewat jepretan sunrise dan status puncak di media sosial. Fenomena FOMO (fear of missing out) mendorong puluhan ribu orang, khususnya generasi milennial dan Gen Z, untuk ikut-ikutan naik gunung, kadang tanpa kesiapan fisik, mental, atau teknis. Tragedi seperti yang dialami oleh pendaki di beberapa gunung dalam satu tahun terakhir, hilang dan meninggal lantaran nekat menembus medan berat tanpa perlengkapan memadai, menegaskan bahwa tren konten demi likes dan validasi bisa berujung maut.
Media sosial merayakan summit selfies dengan pemandangan yang indah, tapi jarang menampilkan sisi gelap, pendaki kelelahan, tersesat, atau jatuh. Banyak solo-hiker hanya berbekal postingan instagram. Padahal, jalur sempit berpasir atau trek licin di malam hari adalah jebakan mematikan. Dalam komunitas pendaki profesional dan klub resmi dunia, syarat seperti latihan dasar, pengecekan cuaca, fisik dan pengetahuan medan bukan sekadar pilihan, itu adalah kewajiban. Sayangnya, tidak semua yang ingin hits di puncak tahu apa itu SOP pendakian, teknik survival, navigasi, atau teknik evakuasi.
Sebagai pintu gerbang menuju pegunungan, basecamp dan operator komersial seharusnya menjadi garis terdepan dalam mengedukasi keselamatan kepada para pendaki. Mereka bukan sekadar penjaga izin, tapi penjaga keselamatan. Di banyak gunung populer Indonesia, keberadaan pendaki meningkat drastis, tetapi prosedur hanya formalitas, izin dipersingkat, pemeriksaan perlengkapan sering diabaikan, dan edukasi keselamatan dicomot sekadar jargon. Alih-alih sebagai pecinta alam, karena target profit, pendaki dilihat sebagai pelanggan yang menghasilkan pundi-pundi. Beberapa hari lalu terjadi tragedi menimpa WNA Brasil di Rinjani, Juliana Marins, 26 tahun yang kemudian mengguncang media massa. Ia jatuh ke jurang curam, bisa bertahan selama beberapa waktu, namun akhirnya menyerah pada keadaan. Marins dinyatakan meninggal setelah jatuh ke jurang ratusan meter, melalui pantauan drone ia terdeteksi melakukan pergerakanselama beberapa saat Beberapa pakar pendakian dari luar dan dalam negeri juga merespon, adanya koordinasi yang yang lambat dalam merespon kejadian ini, situasi emergency seharusnya dapat mem-by-pass birokrasi dalam upaya penyelamatan. Selain itu, peralatan minim membuat aksi penyelamatan korban berjalan semakin sulit. Hasilnya, baru empat hari kemudian tubuhnya ditemukan, tragedi ini menjadi kritik tajam atas lemahnya sistem penyelamatan dan manajemen pendakian oleh operator yang mestinya siap siaga untuk kasus seperti ini.
Fenomena serupa juga muncul di luar negeri. Pada Gansu Ultramarathon (Tiongkok, Mei 2021), 21 pelari tewas karena hipotermia saat hujan salju dan suhu di bawah nol. Lomba tetap dijalankan padahal checkpoint tak lengkap, peralatan pelacakan absen, dan tidak ada personel SAR yang ditempatkan strategis. Ketika mereka membutuhkan pertolongan, tim SAR lambat bergerak—dan tak jarang kehilangan nyawa. Di Himalaya, kisah Fay Manners dan Michelle Dvorak (Desember 2024) terasa menyayat. Dua pendaki lawas itu jatuh saat menyusuri Chaukhamba III. Dibutuhkan tiga hari penuh bagi tim SAR India untuk terhubung, sebelum akhirnya tim asing dan pasukan militer Prancis turun tangan menyelamatkan. Inilah realita, koordinasi kandas oleh birokrasi, jarak, cuaca ekstrem, dan minimnya alat evakuasi modern seperti drone vertical lift atau pelacak GPS real-time.
Gunung Rinjani dan dan beberapa destinasi gunung populer lain sering mencatatkan kecelakaan fatal, dari pendaki lokal yang baru coba-coba ikut open trip hingga WNA yang juga menjadi korban dari media sosial. Pengelola, di satu sisi, mengejar kuota tiap pekan, tim Search and Rescue, di sisi lain, berusaha merespons kecelakaan meski peralatan yang ada tidak memadai. Sudah seharusnya, peralatan seperti, thermal drone, kemudian tim evakuasi cepat siaga, dan komunikasi satelit disediakan, tapi kenyataannya, usaha penyelamatan baru memulai hitungan mundur setelah tragedi terjadi. Jeda waktu tersebut bisa jadi adalah saat-saat kritis survivor, di antara hidup dan mati.
Tak bisa dipungkiri aktivitas alam bebas tetap bisa dinikmati siapa pun. Alam tidak diskriminatif. Tapi untuk mendaki dengan aman, seseorang mesti memenuhi tiga hal utama, perencanaan yang matang, standar safety pendakian, baik pribadi, komunitas maupun operator serta infrastruktur penyelamatan profesional.
Perencanaan yang matang berarti menjauhkan diri dari dorongan FOMO. Bukan naik gunung karena semua orang juga bisa naik gunung, melainkan karena memahami risiko, disiplin menjalani pelatihan fisik dan mental, mengecek cuaca, membawa perlengkapan lengkap. Standar berarti komunitas lokal dan global harus menetapkan SOP seperti, pendaftaran, batas jalur, jumlah guide per grup, pengecekan gear, dan simulasi evakuasi periodik. Operator basecamp harus transparan soal keamanan, bukan sekadar mengejar revenue dari slot pendaki. Pada kasus Juliana Marins, satu guide untuk lima pendaki di jalur ekstrem terbukti tidak cukup, kadang tekanan dari sistem refund if not summit juga dapat mengorbankan keselamatan.
Akhirnya, tim Search and Rescue adalah pengawal akhir. Mereka butuh alat modern, drone termal dengan kemampuan vertical, komunikasi satelit 24/7, basis alat penyelamatan di titik strategis, dan koordinasi cepat antarinstansi. Begitu terjadi kecelakaan, hitungan detik menentukan. Ketika semua elemen berjalan sinkron, motivasi individual yang sadar risiko, standar komunitas dan operator, serta sistem penyelamatan siap, pendakian bukan ajang uji nyali kosong, melainkan perayaan kehidupan dan penghormatan pada alam. Salah satu medium jurnalistik harus menegaskan, penanganan tragedi tak boleh diromantisasi dengan jargon jiwa pendaki tangguh, tapi harus jadi panggilan bangkit, tindak, bukan hanya kata-kata belasungkawa. Rinjani hingga Himalaya sudah ada bukti tegas. Aktivitas alam bebas bisa diakses siapa pun asal tanggung jawab dan sistem keselamatan berdiri kuat.
Avignam Jagad Samagram
Salam Lestari
