Lingkungan

Sampah Menumpuk di Ternate, Unkhair Hadirkan Solusi Ramah Lingkungan di Fitu

Ternate – Permasalahan sampah di Kota Ternate masih membutuhkan perhatian serius. Hingga kini, pengelolaan sampah belum berjalan optimal sehingga menimbulkan penumpukan di berbagai titik, terutama limbah organik yang menjadi penyumbang terbesar timbulan sampah.

Selain itu, rendahnya kesadaran masyarakat dalam mengelola limbah rumah tangga juga memperparah kondisi. Banyak warga masih membuang sampah ke sungai atau barangka yang akhirnya terbawa hingga ke muara. Minimnya pengetahuan tentang cara pengelolaan limbah yang efektif dan efisien membuat masalah ini semakin kompleks.

Baca Juga: Kabar Baik! RSUD Maba Bakal Dibanjiri Dokter Spesialis

Di Kelurahan Fitu, misalnya, pemanfaatan sampah belum dilakukan secara maksimal. Padahal, ada banyak teknologi sederhana dan murah yang bisa diterapkan untuk mengolah limbah rumah tangga. Masyarakat hanya perlu konsisten dalam penerapannya.

Sebagai langkah nyata, tim dari Fakultas Pertanian Universitas Khairun yang dipimpin oleh Haris Mahmud, S.T.P., M.Si bersama Nurfadhilah Arif, S.Si., M.Sc menggelar kegiatan sosialisasi dan pelatihan pengelolaan limbah rumah tangga.

“Kegiatan ini memberikan pengetahuan dan keterampilan bagi masyarakat. Harapannya, masyarakat bisa mandiri dan konsisten dalam penerapan teknologi ini, bahkan menjadikannya bernilai ekonomis. Salah satu teknologi yang kami terapkan adalah pembuatan eco-enzyme dari limbah rumah tangga. Selain bermanfaat bagi kesehatan lingkungan, teknologi ini mudah dan murah diterapkan di rumah tangga,” jelas Haris Mahmud kepada awak media. (13/08)

Baca Juga: Teror di Gerbang Akademik: Represi Aparat di Area Kampus

Eco-enzyme merupakan hasil fermentasi anaerobik dari limbah organik domestik, seperti sisa panen, sisa makanan, kulit buah, maupun sayuran yang tidak termanfaatkan. Proses fermentasi menghasilkan larutan kaya enzim, asam organik, dan mikroorganisme bermanfaat.

Nurfadhilah Arif menambahkan bahwa proses pembuatannya sangat sederhana:
“Bahan yang diperlukan antara lain sisa buah dan sayuran, gula (gula merah atau tebu), serta air bersih. Perbandingannya 3:1:10. Semua bahan dicampur dan dimasukkan dalam wadah kedap udara, lalu didiamkan di tempat sejuk dan gelap selama kurang lebih tiga bulan.”

Kegiatan ini dilanjutkan dengan praktik langsung pembuatan eco-enzyme. Hasil fermentasi kemudian disimpan di Kantor Kelurahan Fitu untuk dipantau secara berkala hingga tiga bulan ke depan. (red)

Editor: AbangKhaM

Silahkan Berbagi: