Mengkhawatirkan, Pencemaran Lingkungan Dari Operasi Tambang IWIP Sudah Masuk ke Mata Rantai Konsumsi Masyarakat. Begini Penjelasannya!
Ternate – Penelitian yang dilakukan oleh Peneliti Nexus3 Foundation dan Universitas Tadulako di sekitar penambangan PT Indonesia Weda Bay Industrial Park (IWIP), di Halmahera Tengah sangat mengkhawatirkan.
Pasalnya, hasil penelitian yang dihimpun sejak Juli 2024 menunjukan pencemaran lingkungan dari proses penambangan tersebut sudah masuk ke mata rantai konsumsi masyarakat.
Darmawati Darwis, guru besar di Program Studi Fisika FMIPA Universitas Tadulako, yang turut dalam penelitian ini mengatakan, tingginya kadar merkuri dan arsenik pada warga yang bukan pekerja di kawasan industri bisa menjadi indikasi paparan logam berat telah menyebar luas di komunitas.
”Temuan ini bisa menjadi sinyal bahwa pencemaran lingkungan telah masuk ke rantai konsumsi rumah tangga,” ucapnya dalam konferensi pers di Jakarta, (26/05).
Menurut Darmawati, cemaran logam berat ini bisa memicu risiko jangka panjang di masyarakat. Ia berharap temuan ini bisa memperbaiki tata kelola lingkungan di sekitar industri. Ia menegaskan bahwa pembangunan industri seharusnya sejalan dengan perlindungan masyarakat dan kelestarian alam.
”Penelitian ini merupakan bentuk tanggung jawab akademik untuk menghadirkan data ilmiah yang transparan dan berbasis lapangan. Bukan menyudutkan pihak manapun,” ujar Darmawati.
Dijelaskan, berdasarkan laporan tersebut logam berat dapat bersifat toksik bagi tubuh manusia jika seseorang terus-menerus terpapar pada frekuensi tinggi dan melebihi batas aman konsumsi. Perhitungan perkiraan asupan mingguan (estimated weekly intake/EWI) dari merkuri dan arsenik dalam 16 sampel ikan yang diteliti menunjukkan bahwa tujuh sampel ikan melebihi batas konsumsi mingguan aman (provisional tolerable weekly intake/PTWI) arsenik sebesar 15 μg/kg.
Nilai EWI arsenik tertinggi ditemukan pada sampel sorihi dari Desa Gemaf dan Lelilef serta ikan gurara. Sementara itu, nilai EWI merkuri berkisar 0,35-3,26 μg/kg, dengan rata-rata 0,77 μg/kg.
Selanjutnya, Yuyun Ismawati, pendiri Nexus3 Foundation, merekomendasikan adanya komite independen untuk mengevaluasi dampak lingkungan dan sosial dari Proyek Strategis Nasional (PSN), termasuk hilirisasi nikel di Teluk Weda.
Baca Juga: Gaji Nakes dan Guru Akan Ditingkatkan, Wali Kota Tidore: Sudah Disahkan!
”PSN seharusnya memayungi dan mengedepankan berbagai hak, termasuk hak masyarakat untuk mendapatkan lingkungan yang sehat,” katanya.
Menurut Yuyun, para peneliti selama ini kesulitan untuk mengambil sampel di lokasi PSN. ”Di titik ideal untuk mengambil sampel, sebagian besar tidak bisa diakses peneliti. Jadi, seharusnya ada komite independen, mungkin di bawah Komnas HAM. Untuk memastikan proyek nasional berjalan dengan benar harus ada yang melakukan pemantauan secara sistematis dan reguler, dan hasilnya disampaikan ke publik,” tuturnya.
Editor: AbangKhaM
