Teologi Pendidikan (Sebuah Pembelaan Manusia Dari Kekuasaan)
Teologi Pendidikan
(Sebuah Pembelaan Manusia Dari Kekuasaan)
Oleh: Dr. Musa Marengke (Dosen IAIN Ternate)
Apakah manusia perlu dibela?. Fritjof Capra, mengatakan pada awal dua dasawarsa terakhir abad ke dua puluh, umat manusia telah menemukan dirinya berada dalam krisis global. Suatu krisis multidimensi yang segi-seginya menyentuh setiap aspek kehidupan manusia: kesehatan, pekerjaan, lingkungan hidup, sosial, politik, ekonomi, teknologi dan pendidikan. Di bidang kekuasaan misalnya, kuatnya hegemoni kekuasaan, telah “menyulap” manusia menjadi “pesuru mekanistik” kekuasaan. Manusia bertindak seperti robot piramid kekuasaan yang kemudian hilang esensi sufistiknya.
Baca Juga: Harga Beras Meroket, Polres Halut Hadirkan Gerakan Pangan Murah untuk Warga
Perilaku manusia berubah menjadi penyembah kekuasaan, dan kekuasaan dijadikan sebagai alat kapitalis, materialis dan hedonis yang pada akhirnya membentuk manusia menjadi buas, dan korup, bahkan binatang lebih mulia dari kamu manusia. Diktum sosial politik menegaskan “semakin lama orang berada pada kekuasaan maka semakin cenderung untuk bertindak in-konstitusi, in-prosedural, dan a-moraliti lainnya.
Daya tarik kekuasaan membuat manusia mengalami keterpecahan pribadi ( splite personaliti), manusia pecah menjadi bagian-bagian yang tidak mempunyai identitas nama yang sesungguhnya. Padahal manusia dalam terma pendidikan zuhud, adalah manusia yang tidak terpecah, ia makhluk suci yang memiliki potensi untuk menolak kekuasaan yang hampa, sebagai salah satunya sikap protes sosial yang harus ada pada manusia. Prinsip cogito ergo sum yang berasal dari tradisi teologi Cartesian, telah memberikan pikiran baru bagi para penguasa, konseptor dan para pemimpin untuk memposisikan kemanusiaan sebagai penjulumatan Tuhan di bumi. Istilah pegawai, istilah presiden, pejabat, atasan, bawahan, politisi, ekonom, guru, dosen dan sebagainya, adalah manusia dalam struktur yang mesti berfungsi melegitimasi struktur kearah “ibna’ binafsik” (pemberdayaan kemanusiaan) dan bukan cita- ideologisasi strukturalis.
Baca Juga:
- Melalui Teologi Pendidikan
Harus diakui bahwa umumnya orang memahami pendidikan sebagai suatu kegiatan mulia yang selalu mengandung kebajikan dan berwatak netral-obyektif, namun dunia pendidikan terkejut, ketika asumsi yang mengandung kebajikan dan kemuliaan itu harus mendapat kritik mendasar dari Paulo Freire dan Ivan Illich di awal tahun 1970-an.
Gagasan Freire dan Illich telah menyadarkan banyak orang bahwa pendidikan yang selama ini hampir dianggap sakral dan penuh kebajikan ternyata mengandung juga penindasan. Kalau demikian, apakah pendidikan telah hilang konsep humanis dan kesemestaan? Jawabnnya tidak
Teologi pendidikan dipersepsikan dalam esay ini adalah proses nilai dan gerakan kemanusiaan yang dilaksanakan melalui lembaga pendidikan maupun non lembaga formal. Pendidkan adalah sebuah proses yang bersumber dari nilai, dalam proses nilai, menuju nilai kemanusiaan. Jadi teologi pendidikan menegaskan pendidikan itu adalah memproses kemanusiaan menjadi milik bersama. Kemanusiaan bukan berada di ruang hampa akan tetapi bersemi dalam diri manusia struktur itu (para pejabat dan birokrat) sehingga yang disuarakan adalah auman-auman kemanusiaan yang melahirkan butiran-butiran kearifan kemanusiaan seperti keinsafan bersama, keadilan bersama, kebahagiaan bersama, demokrasi bersama, dan kesejahteraan bersama, manusia yang memiliki komitmen ketuhanan dan integritas yang sempurna.
Baca Juga: Sosialisasi Literasi di Ternate: FIC Malut Bagikan Buku & Gelorakan Madrasah Membaca
Teologi pendidikan memandang bahwa selama ini ada upaya untuk mereduksi manusia ibarat “benda-benda” sehingga hidup bersama seperti di atas sulit tercipta. Disini terjalin relasi psikologis dalam istilah kuasa- menguasai yang belum terpecahkan hingga saat ini.
Dalam perspektif teologi pendidikan, manusia tidaklah identik dengan binatang. Manusia, menurut al-Qur’an, diciptakan dalam bentuk yang sebaik-baiknya (Q.s.95:), dan makhluk yang mulia dibandingkan dengan makhluk-makhluk Allah lainnya (Q.s.17:). Karenanya pendidikan dikategorikan sebagai faktor utama yang mampu membebaskan manusia dari segala jenis penghambaan dan penindasan kekuasaan. Misalnya agama melarang manusia (pejabat negara) melakukan korupsi kemudian mematuhinya berarti ia berada dalam “proses pematangan kesimpulan”.
Proses pematangan itu melibatkan daya nalar, jiwa dan daya lingkungan sehingga keterlibatan itulah menghasilkan “gerakan idealitas menuju gerakan identitas”. Sistem peralihan inilah yang disebut dengan “proses nilai”. Pendidikan dan kemanusiaan menjadi dua identitas yang tercipta dari satu esensi profetik. Teologi pendidikan selanjutnya memberikan peluang bagi pengakuan derajat kemanusiaan. Diselenggarakan dalam rangka membebaskan manusia dari berbagai persoalan hidup yang melingkupinya. Menurut Paulo Freire, pendidikan merupakan ikhtiar untuk mengembalikan fungsi pendidikan sebagai alat untuk membebaskan manusia dari berbagai bentuk penindasan yang dialami oleh masyarakat.
Baca Juga: Produktivitas Pertanian Masih Rendah, Distani Ternate Jawab dengan Pelatihan Alsintan
Menghindari segala penindasan terhadap derajat manusia sama dengan mengangkat teologi kemanusiaan dalam pendidikan. Teologi pendidikan menolak materialisme, manusia dihargai sebagai sebuah esensi ke-Tuhanan yang diberikan porsi utama dalam rangka meletakkan konsep khalifah dalam dunia nyata. Manusia khalifah adalah makhluk totalitas yang memiliki keseimbangan kualitas iman, dan tugas pendidikan adalah menciptakan pendidikan keseimbangan sehingga melahirkan manusia yang seimbang pula.
Keseimbangan dalam teologi pendidikan merujuk pada aspek struktur esoterik, diarahkan pada penggalian potensi sadar manusia agar mengetahui dan menyadari konsep keseimbangan dalam Islam. Istilah dunia-akhirat, tinggi-rendah, dosa-pahala, atasan-bawahan, kuasa-menguasai dan sebagainya merupakan term pedidikan dalam Islam dalam rangka tercipta kesadaran sistem dalam sistimatika-struktur kehidupan. Ia bukan bejana kosong melainkan mempunyai isi antara konsekuensi kemerdekaan, konsekuensi independensi, konsekuensi humanistik dan konsekuensi kesetaraan
Konsep teologi ini menghadirkan sosok manusia sebagai rahmat publik, menghargai hak publik, dan menghormati Hak-Hak Azasi manusia. Wawasan kemanusiaan pada dasarnya adalah pendidikan yang menekankan pada perhatian terhadap individu manusia secara utuh. Untuk mengembangkan daya-daya manusia tersebut bisa melalui pendidikan formal dan non formal.
Baca Juga: Anak Muda Kohicamp Gelar Aksi Sadar Sampah di Taman Love Ternate
Pendidikan merupakan pembudayaan atau “enculturation”, suatu proses untuk men-tasbih-kan seseorang untuk mampu hidup dalam suatu sistem sosio- budaya tertentu. Konsekuensi dari pernyataan ini, maka praktek pendidikan harus sesuai dengan ajaran agama, budaya, tuntutan dan kebutuhan masyarakat akan menumbuhkan kearifan, kebijaksanaan, egalitarian, menjunjung tinggi nilai kemanusiaan, dan sebaliknya menentang anarkisme kekuasaan tirani dan kesewenang-wenangan.
Dengan demikian, teologi pendidikan menyimpan kekuatan yang luar biasa untuk menciptkan keseluruhan aspek kehidupan manusia. Minimal dalam empat idealitas teologis dari pendidikan, yaitu: pembentukan integritas, Humanitas dan proses kesemestaan.
Editor: AbangKhaM
