BRIN Gali Legenda Putri Dehegila di Morotai, Cerita Rakyat Dibidik Jadi Kekuatan Ekonomi Kreatif
Morotai – Cerita rakyat tidak sekadar menjadi kisah masa lalu yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Di balik setiap cerita tersimpan ingatan kolektif, identitas, nilai budaya, serta potensi ekonomi yang dapat dikembangkan untuk menjawab kebutuhan masyarakat di masa kini.
Potensi tersebut kini tengah digali Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melalui riset yang dilakukan Pusat Riset Bahasa, Sastra, dan Komunitas. Bekerja sama dengan Universitas Khairun (Unkhair), tim peneliti melakukan inventarisasi dan rekonstruksi cerita rakyat di Kabupaten Pulau Morotai, Maluku Utara.
Salah satu cerita yang menjadi perhatian utama dalam riset tersebut adalah legenda Putri Dehegila. Legenda ini tidak hanya dikaji sebagai warisan sastra lisan, tetapi juga ditelusuri berbagai unsur budayanya yang berpotensi dikembangkan sebagai basis industri kreatif.
Baca Juga: 52 Tahun Bersama Golkar, Kisah Ali Waniri yang Tak Berhenti Mengabdi di Usia Senja
Riset tersebut diarahkan untuk mengoptimalkan cerita rakyat sebagai sumber identitas budaya yang dapat dipadukan dengan kekuatan Morotai lainnya, seperti keindahan alam, sejarah, serta gugusan pulau yang dimilikinya.
Legenda Putri Dehegila berkisah tentang seorang putri cantik bernama Dei. Ketika usianya dianggap telah cukup untuk menikah, ayahnya yang merupakan seorang pemimpin di wilayah tersebut bermaksud mencarikan pasangan yang dianggap pantas bagi putrinya.
Untuk menentukan calon suami Putri Dei, digelar sebuah sayembara berupa pertarungan bela diri. Sayembara tersebut kemudian dimenangkan Kapita Sopi, tokoh yang dalam legenda disebut berasal dari wilayah utara Morotai.
Namun, kemenangan Kapita Sopi belum serta-merta membuatnya dapat mempersunting Putri Dei. Ia harus memenuhi sebuah syarat yang ditetapkan sebagai mahar perkawinan.
Baca Juga: ATR/BPN Siapkan 4 Instrumen Pertanahan untuk Perkuat Ketahanan Energi Nasional
Kapita Sopi diminta memindahkan pulau-pulau yang berada di wilayah utara Morotai ke wilayah selatan hanya dalam waktu satu malam.
Tugas tersebut berhasil dilakukan. Dari sejumlah pulau yang hendak dipindahkan, sebagian besar berhasil mencapai wilayah selatan. Dalam salah satu versi cerita yang berkembang di masyarakat, dari 12 pulau yang hendak dipindahkan, 11 berhasil mencapai wilayah selatan, meskipun salah satunya disebut tiba tidak bersamaan dengan pulau-pulau lainnya.
Kegagalan memindahkan seluruh pulau dalam versi tersebut tidak membatalkan perkawinan. Kapita Sopi tetap diterima sebagai pasangan Putri Dei dan perkawinan keduanya kemudian dirayakan bersama masyarakat.
Di tengah masyarakat, legenda Putri Dehegila ternyata tidak hadir dalam satu versi tunggal.
Baca Juga: Data Nilai Tanah Halteng Diperbarui, BPN Perkuat Sistem Digital
Berdasarkan keterangan sejumlah narasumber yang dihimpun tim peneliti, terdapat beberapa varian cerita. Dalam satu versi, pihak yang menetapkan syarat mahar adalah Sangaji, ayahanda Putri Dei. Sementara dalam versi lainnya, syarat tersebut justru diajukan oleh Putri Dei sendiri.
Perbedaan juga ditemukan dalam kisah mengenai asal-usul pulau. Ada versi yang menyebut pulau-pulau tersebut dipindahkan oleh Kapita Sopi, sedangkan versi lainnya menggambarkan pulau-pulau tersebut sebagai sesuatu yang diciptakan.
Bagi tim peneliti, perbedaan tersebut bukan semata-mata persoalan untuk menentukan versi mana yang paling benar. Variasi cerita justru menjadi bagian penting dari tradisi lisan yang menunjukkan bagaimana sebuah legenda diwariskan, ditafsirkan, dikembangkan, dan terus dimaknai masyarakat dari generasi ke generasi.
Karena itu, riset tersebut tidak diarahkan untuk menyeragamkan cerita, melainkan mendokumentasikan keragaman tradisi lisan sekaligus memahami konteks sosial dan budaya yang melatarbelakanginya.
Baca Juga: Halut Dapat 1.067 Hektare Cetak Sawah, Bupati Dorong Penambahan hingga 2.980 Hektare
Tim peneliti BRIN tidak hanya menggali alur cerita, tetapi juga berbagai elemen budaya yang menyertainya, seperti karakter tokoh, relasi antartokoh, pakaian, senjata, kapal, lanskap kepulauan, simbol, kuliner, hingga gambaran kehidupan masyarakat yang terdapat dalam narasi.
Berbagai elemen tersebut berpotensi menjadi sumber inspirasi bagi pengembangan subsektor ekonomi kreatif, mulai dari seni pertunjukan, kriya, kuliner, fesyen, film, fotografi, penerbitan, komik, arsitektur, hingga gim digital dan penyelenggaraan acara.
Dengan pendekatan tersebut, cerita rakyat tidak berhenti sebagai dokumentasi masa lalu, tetapi dapat diolah menjadi produk budaya yang memiliki nilai ekonomi sekaligus memperkuat identitas daerah.
Pengembangan potensi tersebut tetap perlu dilakukan dengan menghormati nilai, konteks, serta hak budaya masyarakat sebagai pemilik pengetahuan dan tradisi yang diwariskan secara turun-temurun. Manfaat sosial, budaya, dan ekonomi juga diharapkan dapat kembali dirasakan oleh masyarakat.
Baca Juga: 60 Ribu Warga Ternate Belum Terlayani Air Bersih, Pemkot Genjot Pemerataan hingga Wilayah Ketinggian
Legenda Putri Dehegila juga berpotensi dipadukan dengan kekuatan pariwisata Morotai. Lanskap pulau-pulau yang menjadi bagian dari legenda dapat dikaitkan dengan pengalaman wisata, sementara tokoh, cerita, simbol, dan artefak budaya dapat dikembangkan menjadi bagian dari ekosistem ekonomi kreatif.
Riset BRIN bersama Universitas Khairun tersebut dirancang berlangsung selama tiga tahun.
Pada tahap pertama yang dilaksanakan pada 2026, tim peneliti berfokus pada inventarisasi cerita rakyat serta identifikasi berbagai elemen naratif dan budaya yang memiliki potensi dikembangkan menjadi produk ekonomi kreatif.
Tahap berikutnya akan diarahkan pada pengembangan dan implementasi berbagai keluaran riset. Dengan demikian, penelitian tidak berhenti pada dokumentasi dan publikasi, tetapi dilanjutkan menuju pemanfaatan hasil riset bagi masyarakat dan daerah.
Baca Juga: TKD Dipangkas, DPRD Malut Dorong Pemkot Tidore Lebih Agresif Jemput Program Pusat
Tim peneliti berharap proses tersebut dapat dilakukan secara kolaboratif bersama Pemerintah Kabupaten Pulau Morotai, Pemerintah Provinsi Maluku Utara, kesultanan, pelaku usaha, investor, UMKM, komunitas adat, pelaku seni dan budaya, serta seluruh elemen masyarakat Morotai.
Kolaborasi dinilai penting karena pengembangan cerita rakyat sebagai sumber ekonomi kreatif tidak dapat dilakukan hanya oleh lembaga penelitian. Masyarakat sebagai pemangku pengetahuan dan kebudayaan harus menjadi bagian utama dalam proses pengembangan tersebut.
Pada akhirnya, riset tentang Putri Dehegila diharapkan tidak hanya menghidupkan kembali legenda yang telah lama tersimpan dalam ingatan masyarakat, tetapi juga membuka jalan bagi Morotai untuk menjadikan kekayaan budayanya sebagai kekuatan ekonomi baru.
Warisan masa lalu, kreativitas masa kini, dan kesejahteraan masyarakat di masa depan diharapkan dapat dipertemukan melalui pengembangan potensi budaya dan ekonomi kreatif yang berkelanjutan.
Reporter: Randi I.
Editor: AbangKhaM
