Interseksi Politik dan Kebijakan Perencanaan Pembangunan di Maluku Utara
Kesimpulan
Dalam rangka menciptakan pendekatan perencanaan kota yang lebih adaptif dan inklusif, tantangan terbesar yang dihadapi adalah urbanisasi yang telah menciptakan beberapa tantangan pembangunan terbesar di dunia. Kota-kota menawarkan kesempatan untuk mengatasi tantangan-tantangan ini secara komprehensif. Sebagai contoh, Pendekatan Nexus Air-Energi-Pangan (WEF) menawarkan kerangka kerja perencanaan kota terpadu untuk merumuskan jalur keberlanjutan. Namun, hingga saat ini belum ada pedoman komprehensif untuk membantu pengambilan keputusan pemerintah kota dalam menerapkan Pendekatan Nexus dalam konteks perkotaan. Meskipun kota-kota hanya menempati 3% dari massa daratan global, mereka bertanggung jawab atas 60–80% konsumsi energi global dan 75% emisi karbon global. Kota-kota memberikan pasar untuk industri dan lapangan kerja, mendorong inovasi teknologi, dan mendukung hunian berkepadatan tinggi dan penggunaan lahan yang efisien.
Pentingnya mengintegrasikan pendekatan modern dalam perencanaan pembangunan Maluku Utara terlihat jelas dari proyek-proyek besar yang dijadwalkan untuk tahun anggaran 2023. Ini termasuk akselerasi pengembangan energi terbarukan, pembangunan destinasi pariwisata prioritas, penerapan industri 4.0, pembangunan kawasan industri, dan reformasi sistem kesehatan nasional. Proyek-proyek ini menunjukkan komitmen pemerintah daerah untuk menerapkan pendekatan pembangunan yang modern dan berkelanjutan.
Menghadapi masa depan perencanaan pembangunan di Maluku Utara dalam konteks politik dan sosial yang berubah, lebih dari 50% populasi global saat ini tinggal di daerah perkotaan. Diperkirakan populasi perkotaan dunia akan meningkat 1,5 kali menjadi 6 miliar pada tahun 2045. Metropolis di negara-negara berkembang sering kali ditandai dengan kemiskinan ekstrem, pengangguran, dan ketimpangan sosial-ekonomi. Pola konsumsi dan produksi yang tidak berkelanjutan di kota-kota ini merupakan kontributor utama perubahan iklim dan degradasi lingkungan. Kota-kota ini menghadapi tantangan pembangunan perkotaan yang signifikan dalam hal kelayakan hunian, inklusi sosial, pengembangan ekonomi lokal, akses ke layanan dasar perkotaan, mobilitas, serta mitigasi dan adaptasi perubahan iklim Untuk mencapai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDG) 11 PBB, kota-kota di seluruh dunia perlu menerapkan pendekatan transformatif untuk membuat kota-kota menjadi inklusif, aman, tangguh, dan berkelanjutan. Diperlukan “visi baru untuk urbanisasi” dan kesempatan bersejarah untuk merumuskan visi tersebut dalam rangka implementasi Agenda 2030 untuk Pembangunan Berkelanjutan
Dengan demikian, kesimpulan yang dapat diambil adalah bahwa perencanaan kota di masa depan harus bersifat adaptif dan inklusif, mengintegrasikan pendekatan modern, dan merespons dengan cepat terhadap dinamika politik dan sosial yang berubah. Hal ini penting untuk mencapai tujuan pembangunan yang berkelanjutan dan inklusif, terutama di daerah seperti Maluku Utara yang sedang mengalami transformasi pesat. Pendekatan ini harus mempertimbangkan faktor-faktor seperti urbanisasi, perubahan iklim, dan ketimpangan sosial, serta memanfaatkan teknologi dan inovasi untuk mencapai hasil yang optimal bagi semua warga kota.
Editor : Ian Daulasi
