Kopi Dan Rasa Demokrasi Modernisme
Oleh karena itu kita harus melihat sejarah sebagai sebuah contoh untuk menata masa depan manusia yang juah dari apa yang disebut oleh Gidden sebagai hantu-hantu modernisme “Juggernaut“ (Truk Besar) perubahan dunia modern. Karena itulah jika manusia tidak mampu mengendalikan dunia, tidak mampu mengendalikan sejarah, dan keterpurukan dalam ketidakpastian maka bersiaplah untuk tergerus dalam arus Juggernaut.
Pada saat ini ada juga isu mengenai negara sejahtera yang selalu disanjung di satu sisi oleh masyarakat, pertanyaannya bagimana cara menyongsong negara kesejahteraan itu di tengah banyaknya masalah yang dihadapi oleh bangsa Indonesia. Indonesia memang di awal kemerdekaan memimpikan satu bentuk negara kesatuan yang sejahtera, tetapi setelah berjalannya waktu ternyata konsep negara sejahtera tersebut kemudian runtuh disebabkan oleh tidak stabilnya aturan negara dalam mengontrol kekuatan-kekuatan yang tumbuh dengan haluan ideologi dan kekuatan finansial yang kuat. Bukan hanya Indonesia yang memimpikan satu bentuk negara sejahtera, Inggris misalnya pernah menerapkan konsep negara sejahtera namun gagal berkali-kali, begitupun dengan negara Jerman, tetapi negara kesejahteraan di Jerman selalu memiliki jaringan kompleks kelompok dan asosiasi sektor lain yang juga dikuasai oleh kelompok pengusaha dan penguasa.
Negara sejahtera hanya bisa diwujudkan oleh satu gerakan aksi massa seperti yang digambarkan oleh sejarah bahwa negara sejahtera seperti yang ada saat ini adalah negara yang berhasil dalam perang melawan penindasan yang sewenang-wenang. Sehingga untuk mewujudkan negara sejahtera akan sangat sulit, selama para pengusaha yang dzalim masih mendominasi setiap persoalan yang dihadapi dan menjadi ketergantungan bagi masyarakat. Reformasi kesejahteraan harus mengenali pokok-pokok resiko yang telah dibicarakan sebelumya, terutama soal pengelolaan resiko-resiko yang efektif (individu dan kolektif).
Oleh karna itulah kita harus lebih banyak berbicara dan menemukan satu formula mengenai kesejahteraan positif bagi semua orang, di mana individu itu sendiri, dan agen agen pemerintahan turut berperan dalam membantu mewujudkan lingkungan kekayaan yang mensejahterakan masyarakatnya. Kesejahteraan yang dimaksudkan intinya bukanlah konsep ekonomis, tetapi konsep psikis, yang berkaitan dengan kesejahteraan manusia. Karena itu, tunjangan atau keuntungan ekonomis nyaris tidak pernah memadai untuk menciptakan kesejahteraan. Institusi-institusi kesejahteraan harusnya membantu perkembangan tunjangan psikologis maupun ekonomis. Contoh yang umum adalah konseling, yang kadang – kadang dapat lebih membantu dari pada dukungan ekonomis secara langsung. Dan karena itulah kita harus menggantikan konsep negara kesejahteraan dengan negara investasi sosial, yang beroperasi dalam konteks masyarakat kesejahteraan positif. Negara kesejahteraan sudah harus digantikan oleh masyarakat kesejahteraan karena pemerintahan harus memainkan peran yang lebih besar dalam memberikan layanan-layanan kesejahteraan kepada rakyatnya. Sistim pengendalian tunjangan dari atas ke bawah harus memiliki tempat bagi sistem distribusi yang lebih terkonsolidasi di sektor bawah. Secara lebih umum, kita harus menyadari bahwa rekonstruksi kebijakan kesejahteraan harus diintegrasikan dengan program-program untuk pengembangan aktif masyarakat yang Madani.
Diskusi tentang Kopi Demokrasi Modernisme berhenti di teras kopi karena sejumlah peristiwa penting harus kami tunda dengan persetujuan bersama bahwa sejumlah peristiwa penting akan terus diucapkan selama beberapa hari ke depan yang mana kemenangan mayoritas yang akan dicapai harus berprinsip poros rakyat dan kemanusiaan. Karena bagaimanapun juga, adalah bahwa citra semata tidaklah cukup, harus ada sesuatu yang solid di belakang gembar gembor itu semua.
Editor : Abang KhaM
