Opini

Korupsi Dan Marifat Pelacur Maluku Utara

Dari situlah, ekonomi-politik menasibkan hidup kami. Yang sudi mampir ke gubug kami hanya azan dan suara feminin ayat-ayat suci yang menuntut kami yang lemah untuk tetap hidup seperti makhluk bersayap lepas dari jejak kaki bumi. Duhai messiah, alasan apa yang membuat kami harus percaya padamu di setiap pawai pemilu berarak-arak dengan uang dan penuh janji-janji penyelamatan?

Kami yang tercerabut dari kehidupan. Ibadah kami bukanlah sembahyang di masjid-masjid dan gereja-pura, tapi langkah kami menuntun para lelaki kaya menuju kamar peraduan surga. Keringat dan desahan kami adalah banjir tasbih dan tahmid yang diajarkan setan untuk tetap dekat dengan nyawa kehidupan.

Kami bersetubuh bukan karena cinta dan nafsu, tapi menghidupi nyawa yang diterlantarkan oleh masyarakat dan negara. Persenggamaan kami menyehatkan ekonomi pusat dan daerah, kami penyetor pajak yang setia. Melakukan sesuatu yang tak mungkin dilakukan negara, itulah sedekah kami.

Menceburkan diri dalam derita tapi penuh dengan lapang dada. Bukankah hidup kami ini sungguh spiritual, meski gelap dan remang-remang. Muak dan marah, ungkapan perasaan kami pada orang-orang terpelajar dan terhormat tapi kebahagiaan mereka di dunia ekonomi-politik justru menghisap darah kehidupan kami dengan korupsi dan kolusi.

Makin cerdas dan pandai seseorang, tidak makin memperhalus watak dan akal-budinya. Tatkala melihat pejabat melakukan korupsi dalilnya resiko pejabat, lalu menyalahkan masyarakat karna alasan tekanan masyarakat yang membuatnya korupsi.

Pengetahuan dan pendidikan yang ada di kepala para politisi dan pengusaha menjadi senjata pembunuh masa depan kami. Heran, kenapa mereka disebut orang terhormat sedang kami yang jadi korban mereka dinamai makhluk setan sundal, bukankah mereka lebih aniaya daripada kami.?

Hidup inilah yang justru menanggung dosa-dosa para pejabat, koruptor, pendidik, pengusaha, dan agamawan yang lari mencari menang sendiri. Oleh merekalah, hidup kami menjadi seperti ini.

Sayang sungguh sayang, tak terbilang seorang manusia yang merangkap jabatan di negeri Konoha ini terjerat, justru banyak orang memuji dirinya, kadanglah mendoakan dirinya agar segera bebas.

Kami mampu menikmati dan menjalani kesengsaraan yang diciptakan para kaum terpelajar dan terhormat. Ma’rifat kami adalah menanggung dosa yang lebih menyakitkan dari pada yang Yesus alami, dan meminum limbah kebijakan yang dialirkan dari pabrik-pabrik pendidikan yang diciptakan negara.

Sungguh, kamilah yang patut disebut mistikus sejati, meski harus menaiki tangga puncak ma’rifat yang dibuat para setan pemberani daripada para sufi yang hidup menyepi bersatu dengan tuhan tapi lupa akan kehidupan sekitar.

Kami, mistikus lumpur hitam, menuju singgasana tuhan dengan bantuan para iblis dan setan. Merasakan penderitaan dengan nyanyian dan desahan malam.

Semoga neraka berbelas kasihan pada tubuh kusut ini, bahwa kami hanya berusaha melanjutkan hidup meski terlempar dari norma dan aturan masyarakat, karena mereka, para ulama dan orang-orang terhormat hanya bisa menghujat dan memberi label haram jadah pada kami semua.

Sungguh demi roh anggur, dengan melihat kami, mata kesakralan dan jubah kesucian para ustadz dan kyai akan luntur ditelan keangkuhan mereka yang tiap ceramahnya menjadikan kami sebagai objek penistaan dan penghinaan. Kami yang akan menuntut mereka kelak, di pengadilan kehidupan mendatang. (Red)

Editor : Abang KhaM

Silahkan Berbagi: