Banjir Gambesi 2025: Urgensi Mitigasi Berbasis Data dan Teknologi
BANJIR GAMBESI 2025: URGENSI MITIGASI BERBASIS DATA DAN TEKNOLOGI
Oleh: Nabila Islamaiya Alhadar, S.T., M.T.
Dosen Teknik Sipil Universitas Khairun – Kelompok Keahlian Rekayasa Sumber Daya Air
Kelurahan Gambesi, Kota Ternate, kembali menjadi sorotan sepanjang tahun 2025. Banjir berulang yang melanda kawasan ini bukan sekadar akibat hujan deras, melainkan juga cerminan kegagalan tata kelola air dan perencanaan perkotaan yang sistemik. Salah satu penyebab utama banjir tahun ini adalah luapan dari kali mati sungai kecil yang melintasi permukiman dan telah lama menjadi titik rawan banjir.
Peta Bahaya Banjir: Hasil Analisis dan Pemodelan HEC-RAS
Sebagai bagian dari upaya mitigasi berbasis sains, Universitas Khairun telah melakukan survey lapangan, analisis hidrologi, serta pemodelan banjir menggunakan perangkat lunak HEC-RAS. Hasilnya divisualisasikan dalam Peta Bahaya Banjir Eksisting Kelurahan Gambesi-Sasa (lihat gambar).

Peta ini menunjukkan:
• Zona risiko banjir tinggi (merah) terkonsentrasi di sepanjang alur kali mati, sesuai lokasi permukiman yang paling sering terdampak luapan air.
• Zona risiko sedang (kuning) dan rendah (hijau) tersebar di area yang sedikit lebih jauh dari sungai, namun tetap berpotensi tergenang saat debit air meningkat.
• Data diperoleh dari kombinasi data hujan BMKG 2014–2024, survei lapangan Februari 2025, serta pemodelan banjir berbasis HEC-RAS yang memperhitungkan perubahan tata guna lahan dan kapasitas sungai.
Analisis hidrologi memperlihatkan bahwa kapasitas kali mati sudah jauh di bawah kebutuhan untuk menampung debit puncak saat hujan ekstrem. Pemodelan banjir memperkuat temuan bahwa area di sepanjang sungai sangat rentan terhadap genangan, bahkan pada hujan dengan periode ulang 5–10 tahun.
Validasi Kejadian Banjir 2025: Luapan Kali Mati Sebagai Sumber Utama
Sepanjang tahun 2025, Gambesi mengalami dua kali banjir besar yang berdampak luas pada masyarakat. Pada 30 Maret dan 21 Juni 2025, hujan berintensitas tinggi menyebabkan kali mati meluap, merendam permukiman warga hingga menutup akses utama dan memaksa evakuasi oleh Tim SAR Ternate. Kerusakan infrastruktur dan rumah warga sangat signifikan, dan kejadian ini sepenuhnya sesuai dengan hasil pemetaan risiko yang telah kami lakukan.
Akar Masalah: Kapasitas Sungai dan Drainase yang Tidak Memadai
Banjir Gambesi adalah akibat dari kombinasi kapasitas kali mati yang terbatas, sedimentasi, penyempitan, serta pembangunan di bantaran sungai. Sistem drainase lingkungan pun tidak memadai dan tidak memenuhi standar teknis, sehingga tidak mampu menampung limpasan permukaan yang meningkat akibat urbanisasi. Koefisien runoff yang melonjak dari 0,4 menjadi 0,7-0,9 menyebabkan hampir seluruh air hujan langsung menjadi aliran permukaan.
Selain itu, perubahan tutupan lahan memperparah situasi. Data citra satelit menunjukkan peningkatan area terbangun sebesar 25% dalam lima tahun terakhir, mengubah daerah resapan menjadi permukaan kedap air. Akibatnya, limpasan permukaan (runoff) meningkat, sementara saluran drainase yang ada tidak diperbesar untuk mengantisipasi perubahan ini.
Dampak Multisektor
Banjir di Gambesi tidak hanya meninggalkan genangan air, tetapi juga kerusakan rumah, infrastruktur, ekonomi lokal. Pada tingkat rumah tangga, dampak kerusakan properti terbagi dalam tiga kategori: rusak ringan (terendam air dan lumpur), rusak sedang (kerusakan struktur dinding, lantai, dan instalasi listrik), hingga rusak berat (runtuh total atau tidak layak huni).
Infrastruktur lokal pun tak luput dari dampaknya. Jalan lingkungan, jembatan, dan saluran drainase yang rusak atau tertutup material banjir memutus akses transportasi, sementara fasilitas umum seperti sekolah dan tempat ibadah membutuhkan biaya rehabilitasi yang membebani anggaran pemerintah.
Sektor ekonomi lokal juga ikut terdampak. Pelaku UMKM kehilangan stok dagangan dan pendapatan harian. Biaya tambahan untuk pemulihan – mulai dari perbaikan rumah, penggantian peralatan, hingga pengobatan penyakit pasca banjir-memperparah beban ekonomi warga. Pemerintah pun harus mengalokasikan dana darurat untuk evakuasi dan perbaikan infrastruktur, dana yang sebenarnya bisa dialihkan untuk program pencegahan jika banjir bisa diantisipasi.
Solusi Berbasis Data, Teknologi, dan Kolaborasi
Banjir di Gambesi membutuhkan solusi yang tidak hanya bersifat teknis, tetapi juga memperhatikan aspek kebijakan dan partisipasi masyarakat. Berikut adalah beberapa langkah strategis yang dapat diimplementasikan untuk mengurangi risiko banjir di masa depan:
1. Perbaikan Infrastruktural
Redesain sistem drainase harus dilakukan dengan menggunakan model hidrologi seperti HEC-HMS atau SWMM untuk menghitung debit banjir secara akurat berdasarkan data curah hujan dan karakteristik daerah aliran sungai (DAS). Selain itu, pembangunan sumur resapan dan biopori di titik-titik rawan banjir dapat meningkatkan kapasitas resapan air tanah, mengurangi limpasan permukaan. Langkah lain yang tak kalah penting adalah normalisasi kali mati yang sering meluap ke permukiman warga, dengan memperlebar dan memperdalam alur sungai serta memperkuat tanggul dengan material yang lebih tahan erosi.
2. Pendekatan Lintas Sektor
Solusi teknis harus didukung oleh kebijakan yang kuat. Pemetaan risiko banjir partisipatif yang melibatkan warga, akademisi, dan pemerintah daerah dapat membantu mengidentifikasi titik-titik rawan secara lebih akurat. Selain itu, penegakan aturan tata ruang harus dilakukan secara ketat, termasuk larangan pembangunan di daerah resapan air dan sanksi tegas bagi pelanggar. Sosialisasi tentang pentingnya menjaga daerah resapan dan drainase juga perlu digencarkan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat.
3. Studi Kasus Inspiratif
Beberapa kota di Indonesia telah berhasil mengurangi frekuensi dan intensitas banjir melalui intervensi yang tepat. Kota Semarang, misalnya, berhasil menurunkan banjir hingga 30% dengan menerapkan sistem polder dan pompa hidrolik di daerah dataran rendah. Sementara itu, Banjarmasin mengadopsi konsep eco- drainage yang memanfaatkan vegetasi lokal untuk mengelola air hujan, mengurangi beban pada saluran drainase konvensional.
Penutup: Momentum Perubahan Tata Kelola Air
Banjir berulang di Gambesi adalah bukti kegagalan sistemik tata kelola air perkotaan. Tanpa intervensi mendasar, siklus ini akan terus berulang.
Tiga langkah krusial yang harus segera diambil adalah:
1. Mengalokasikan anggaran khusus untuk studi hidrologi komprehensif guna menghasilkan data akurat sebagai dasar perencanaan infrastruktur.
2. Membentuk tim ahli multidisiplin yang melibatkan akademisi, praktisi teknik sipil, dan perwakilan komunitas untuk merancang solusi berbasis lokal.
3. Menjadikan Gambesi sebagai laboratorium hidup penerapan konsep tata air perkotaan berkelanjutan, mulai dari drainase cerdas hingga revitalisasi daerah resapan.
Peta bahaya banjir yang kami hasilkan menjadi bukti ilmiah sekaligus alat advokasi penting untuk mendorong perubahan nyata di lapangan. Jika Ternate ingin menjadi kota tangguh, inilah saatnya bertindak.
Sebagai penutup, penting untuk menggeser paradigma bahwa banjir bukanlah takdir alam, melainkan cermin kelalaian manusia dalam mengelola lingkungan. Jika Ternate serius ingin menjadi kota yang tangguh dan berkelanjutan, momentum inilah saatnya untuk bertindak.
Air bisa menjadi berkah atau bencana – pilihan itu ada di tangan kita.!
