Panas! Suku Wayoli Tuding Pernyataan Bupati Halbar Soal Geotermal “Menyesatkan”
Halbar – Pengurus Besar Suku Wayoli melalui Biro Pemuda Wayoli Maluku Utara mengecam keras pernyataan Bupati Halmahera Barat, James Uang, terkait rencana operasional perusahaan geotermal di kawasan Talaga Rano.
Ketua Biro Pemuda Wayoli Maluku Utara, Marianto Mayau, menilai pernyataan tersebut yang menyebut sebagian masyarakat adat Suku Wayoli telah menerima investasi geotermal tidak sesuai dengan fakta di lapangan.
Ia bahkan menyebut klaim tersebut sebagai informasi menyesatkan yang berpotensi membingungkan publik.
“Sebagai pejabat publik, seharusnya menyampaikan informasi yang akurat dan dapat dipercaya, bukan membangun opini yang menyesatkan rakyat sendiri,” tegas Marianto dalam keterangannya, Jumat (24/04/2026).
Menurutnya, pertemuan antara pihak perusahaan dan sejumlah masyarakat sebelumnya tidak bisa dijadikan dasar untuk menyimpulkan adanya persetujuan resmi dari masyarakat adat.
Ia menegaskan bahwa pertemuan tersebut bukan forum representatif yang mencerminkan sikap kolektif Suku Wayoli.
Baca Juga: Alarm PAD Tidore! Hingga Maret Baru Tercapai Rp17,36 Miliar
Lebih jauh, Marianto menilai narasi yang disampaikan pemerintah daerah justru berpotensi memperkeruh situasi dan melukai perasaan masyarakat adat yang selama ini konsisten menolak rencana investasi geotermal di wilayah tanah ulayat, khususnya di kawasan Talaga Rano.
Ia menegaskan bahwa hingga saat ini sikap masyarakat Wayoli tidak berubah, yakni menolak segala bentuk investasi geotermal di wilayah tersebut.
Penolakan tersebut, kata dia, bukan semata terkait pemanfaatan lahan, melainkan menyangkut kehormatan, identitas, serta keberlangsungan hidup generasi adat.
“Tanah leluhur adalah kehormatan. Kami tidak akan berkompromi dengan investasi yang berpotensi merusak alam dan mengabaikan hak ulayat,” ujarnya.
Baca Juga: Laga Penentuan! Malut United Wajib Menang Lawan Persebaya atau Terlempar dari Persaingan
Marianto juga menyoroti potensi ekonomi lokal yang selama ini menjadi sumber penghidupan masyarakat, seperti pala, cengkeh, kakao, dan kelapa. Menurutnya, komoditas tersebut lebih berkelanjutan dan memberikan manfaat langsung bagi masyarakat dibandingkan investasi korporasi yang dinilai berorientasi pada keuntungan semata.
Di akhir pernyataannya, ia mengingatkan pemerintah daerah agar tidak salah menafsirkan sikap masyarakat Wayoli. Ia menegaskan bahwa kondisi yang tampak kondusif saat ini bukan berarti adanya persetujuan, melainkan bentuk pengendalian diri sambil terus membangun konsolidasi penolakan.
“Jangan salah tafsir. Kami tetap menolak geotermal dan tidak akan mundur,” tandasnya.
Reporter: Tim Calut Center
Editor: AbangKhaM
