Opini

Terjebak Algoritma dan AI, Apakah Manusia Mulai Kehilangan Kemampuan untuk Berpikir?

Konsumen Pasif dalam Dunia Digital
Oleh: Qenan Rohullah – Pegiat Literasi dan Pemerhati lingkungan.

Perkembangan teknologi digital telah membawa manusia memasuki sebuah zaman baru. Hampir seluruh aktivitas kehidupan kini bersentuhan dengan aplikasi, algoritma, kecerdasan buatan, dan sistem pengolahan data. Teknologi yang pada mulanya diciptakan untuk membantu manusia perlahan berkembang menjadi kekuatan yang ikut menentukan bagaimana manusia berpikir, berkomunikasi, mengambil keputusan, bahkan memandang dirinya sendiri.

Di tengah arus transformasi tersebut, muncul sebuah persoalan yang sering luput dari perhatian: apakah manusia masih menjadi subjek utama teknologi, atau justru telah berubah menjadi konsumen pasif dari sistem digital?

Pertanyaan ini penting karena kemampuan manusia hari ini semakin sering digantikan oleh mesin. Ketika seseorang ingin mengetahui sesuatu, ia bertanya kepada mesin pencari atau ChatGPT. Ketika ingin membuat tulisan, ia meminta bantuan AI. Ketika ingin menentukan pilihan, ia mengikuti rekomendasi algoritma. Bahkan dalam memahami realitas sosial, manusia semakin bergantung pada apa yang muncul di layar.

Masalahnya bukan pada penggunaan teknologi itu sendiri. Teknologi dapat memperluas kemampuan manusia secara luar biasa. Persoalannya muncul ketika manusia kehilangan kemampuan untuk melakukan proses berpikir secara mandiri karena terlalu terbiasa menerima jawaban yang telah disediakan oleh sistem.

Baca Juga: “Saya Sudah Kembali ke Tanah Lahir”: Pesan Muhdin Ma’bud tentang Pulang, Negeri, dan Kapita Muda

Dari Manusia Aktif Menjadi Konsumen Pasif

Manusia pada dasarnya bukan sekadar makhluk yang mampu bertanya. Manusia juga memiliki kemampuan untuk mencari, menguji, meragukan, membandingkan, menemukan, dan menciptakan jawaban.

Namun, ekosistem digital berpotensi mengubah kebiasaan tersebut. Kita cukup mengetik pertanyaan, kemudian algoritma memberikan jawaban. Kita cukup membuka media sosial, lalu sistem menentukan konten apa yang dianggap menarik bagi kita. Kita cukup berbelanja, lalu algoritma merekomendasikan produk berdasarkan jejak perilaku digital kita.

Semua berlangsung cepat dan nyaman.
Tetapi kenyamanan mempunyai harga.

Ketika proses berpikir terlalu banyak diserahkan kepada mesin, manusia berisiko kehilangan kebiasaan untuk mengeksplorasi pengetahuan secara mandiri. Kita menjadi terbiasa menerima, bukan menciptakan; mengikuti, bukan mempertanyakan; mengonsumsi, bukan memproduksi gagasan.

Inilah yang saya sebut sebagai konsumen pasif dalam dunia digital.

Konsumen pasif bukan hanya orang yang membeli produk digital. Lebih jauh dari itu, ia adalah manusia yang kehidupannya semakin ditentukan oleh pilihan-pilihan yang telah disusun oleh sistem digital.

Baca Juga: Bahasa Daerah Mulai Tergerus? FTBI Maluku Utara Dorong Generasi Muda Kembali Bertutur

AI Tidak Memiliki Pengalaman Moral Manusia

Ada satu persoalan mendasar yang perlu dipahami: kecerdasan buatan dapat mengolah informasi, tetapi persoalan manusia tidak selalu dapat direduksi menjadi informasi.

Sebuah sistem AI dapat memberikan jawaban terhadap pertanyaan yang sama dari dua orang yang memiliki tujuan berbeda. Secara teknis, pertanyaannya mungkin identik. Namun secara moral dan sosial, konteksnya bisa sangat berbeda.

Misalnya, seseorang bertanya tentang suatu informasi dengan tujuan pendidikan, sementara orang lain menggunakan informasi yang sama untuk melakukan tindakan kriminal. Sistem dapat memberikan jawaban berdasarkan pola dan informasi yang tersedia, tetapi tidak mengalami kehidupan manusia sebagaimana manusia mengalaminya.

Di sinilah batas penting teknologi digital.

Manusia memiliki konteks, pengalaman, moralitas, tanggung jawab, empati, dan konsekuensi sosial. Karena itu, keputusan yang menyangkut kehidupan manusia tidak seharusnya sepenuhnya diserahkan kepada algoritma.

AI seharusnya menjadi alat yang memperkuat pertimbangan manusia, bukan menggantikan seluruh kemampuan manusia untuk menilai.

Baca Juga: Kemarau Panjang Melanda Halut, Pemda dan Warga Gelar Shalat Istisqa

Big Data dan Persoalan Kedaulatan Diri

Persoalan berikutnya adalah data.

Setiap hari manusia meninggalkan jejak digital: apa yang dicari, apa yang dibaca, apa yang disukai, siapa yang diikuti, lokasi yang dikunjungi, produk yang dibeli, hingga pola interaksi dengan orang lain.

Data tersebut memiliki nilai ekonomi dan politik yang sangat besar.

Ketika data dikumpulkan dalam skala besar, perusahaan dapat memahami pola perilaku masyarakat dengan tingkat ketelitian yang semakin tinggi. Dari sana, sistem dapat menentukan rekomendasi, iklan, informasi, dan berbagai bentuk pengalaman digital yang diterima pengguna.

Persoalannya bukan semata-mata apakah perusahaan memiliki data, tetapi siapa yang memiliki kendali atas data tersebut dan untuk kepentingan apa data digunakan?

Jika manusia tidak memiliki kendali yang memadai terhadap data dirinya sendiri, maka persoalan tersebut pada akhirnya menjadi persoalan kedaulatan.

Kedaulatan tidak hanya berarti kedaulatan negara atas wilayahnya. Dalam masyarakat digital, kita juga harus berbicara mengenai kedaulatan individu atas data, pikiran, pilihan, dan identitas digitalnya.

Sebab siapa yang memiliki kemampuan besar untuk mengendalikan informasi memiliki peluang besar pula untuk memengaruhi persepsi publik.

Baca Juga: KUA-PPAS Perubahan 2026 Disepakati, Anggaran Halut Tembus Rp1,1 Triliun

Ketika Algoritma Menentukan Apa yang Kita Lihat

Media sosial telah memperlihatkan bagaimana algoritma dapat menentukan apa yang muncul di hadapan pengguna. Konten yang mendapatkan perhatian lebih besar cenderung terus diperlihatkan karena dianggap mampu mempertahankan keterlibatan pengguna.

Akibatnya, masyarakat tidak selalu melihat dunia sebagaimana adanya. Mereka melihat dunia melalui sebuah “jendela” yang telah dipilihkan oleh algoritma.

Dua orang yang hidup di kota yang sama dapat menerima realitas digital yang sangat berbeda. Masing-masing mendapatkan informasi berdasarkan riwayat perilakunya sendiri.

Dalam situasi seperti ini, realitas publik dapat terfragmentasi.

Manusia kemudian mudah terjebak dalam ruang informasi yang hanya menguatkan pandangannya sendiri. Perbedaan pendapat menjadi konflik. Kritik dianggap serangan. Informasi yang berbeda dianggap ancaman.

Karena itu, persoalan algoritma bukan hanya persoalan teknologi. Ia telah menjadi persoalan sosial, kebudayaan, bahkan demokrasi.

“Zombie” Digital

Istilah “zombie” mungkin terdengar berlebihan. Namun metafora ini relevan untuk menggambarkan manusia yang kehilangan daya kritis karena terlalu bergantung pada sistem digital.

Zombie digital bukan manusia yang tidak memiliki kecerdasan. Justru ia bisa sangat terhubung dengan informasi. Masalahnya adalah ia tidak lagi memiliki kemampuan yang cukup untuk menentukan apa yang harus dipercaya, apa yang harus diragukan, dan apa yang harus dicari lebih jauh.

Ia terus menggulir layar.
Ia terus menerima notifikasi.
Ia terus mengonsumsi informasi.

Tetapi semakin banyak informasi yang dikonsumsi, belum tentu semakin kuat kemampuan berpikirnya.

Di sinilah paradoks zaman digital: manusia memiliki akses terhadap pengetahuan yang belum pernah sebesar sebelumnya, tetapi akses terhadap pengetahuan tidak otomatis menghasilkan manusia yang lebih berpengetahuan.

Pengetahuan membutuhkan proses: membaca, memahami, membandingkan, menguji, berdialog, mengalami, dan merefleksikan.

Jika seluruh proses tersebut digantikan oleh jawaban instan, manusia mungkin menjadi semakin cepat mendapatkan informasi, tetapi semakin lemah dalam membangun pengetahuan.

Baca Juga: Panen Ikan Nila di Soahukum, Wabup Kasman: Jangan Berhenti Jadi Seremonial!

Pemerintah Tidak Boleh Sekadar Menjadi Penonton

Persoalan ini membutuhkan respons negara.

Pemerintah tidak cukup hanya membangun infrastruktur digital dan mendorong transformasi teknologi. Negara juga perlu memastikan bahwa perkembangan teknologi berjalan bersama perlindungan terhadap manusia.

Pusat-pusat riset dan inovasi harus diperkuat. Pendidikan harus diarahkan bukan hanya agar masyarakat mampu menggunakan teknologi, tetapi juga mampu memahami cara kerja teknologi, algoritma, data, dan dampaknya terhadap kehidupan sosial.

Literasi digital juga harus naik tingkat.

Literasi digital tidak cukup hanya mengajarkan masyarakat bagaimana menggunakan aplikasi. Masyarakat harus diajarkan bagaimana mempertanyakan informasi, memahami algoritma, melindungi data pribadi, mengenali manipulasi informasi, serta mempertahankan kemampuan berpikir mandiri.

Regulasi terhadap perusahaan teknologi juga harus terus dikembangkan agar inovasi tidak berjalan tanpa batas sosial dan etika.

Tujuannya bukan memusuhi teknologi.

Sebaliknya, negara harus memastikan teknologi tetap berada pada posisi yang semestinya: sebagai alat untuk memperkuat manusia, bukan sebagai sistem yang secara perlahan menggantikan kedaulatan manusia.

Menjadi Konsumen Aktif

Pada akhirnya, persoalannya bukan apakah manusia harus meninggalkan teknologi. Itu tidak mungkin dan juga tidak diperlukan.

Yang kita perlukan adalah perubahan posisi.
Dari konsumen pasif menjadi konsumen aktif.

Konsumen aktif adalah manusia yang menggunakan teknologi, tetapi tidak menyerahkan seluruh pikirannya kepada teknologi. Ia memanfaatkan AI, tetapi tetap melakukan verifikasi. Ia membaca rekomendasi algoritma, tetapi tidak menjadikannya sebagai kebenaran mutlak. Ia menggunakan media sosial, tetapi tetap mampu hidup tanpa dikendalikan oleh arus perhatian digital.

Manusia harus kembali menjadi subjek.

Kita membutuhkan generasi yang mampu bertanya kepada AI, tetapi juga mampu mempertanyakan jawaban AI. Generasi yang mampu menggunakan mesin untuk mencari pengetahuan, tetapi tetap memiliki kemampuan untuk menghasilkan pengetahuan. Generasi yang memanfaatkan teknologi tanpa kehilangan kemampuan untuk berpikir secara konvensional, kritis, kreatif, dan mandiri.

Sebab teknologi yang paling berbahaya bukanlah teknologi yang semakin pintar.
Teknologi yang paling berbahaya adalah teknologi yang membuat manusia berhenti berpikir karena merasa tidak perlu lagi berpikir.

Di abad ke-21 ini, tantangan terbesar manusia mungkin bukan bagaimana menciptakan mesin yang semakin cerdas, melainkan bagaimana memastikan manusia tetap menjadi manusia di tengah mesin-mesin yang semakin cerdas.

Kedaulatan manusia pada akhirnya tidak hanya ditentukan oleh siapa yang menguasai teknologi.

Ia ditentukan oleh siapa yang masih mampu mengendalikan pikirannya sendiri.

Editor: AbangKhaM

Silahkan Berbagi: