Opini

Saat Sistem Pangan Global Rapuh, Adikuasi Jadi Harapan Baru Pertanian

Oleh: Prof. Dr. Ranita Rope,. SP. M.Sc
(Guru Besar Pertanian & Rektor UMMU)

Tema tentang krisis global ganda atau apa yang disebut double crisis menjadi masalah dunia yang tidak lagi berdiri sendiri, muncul bersamaan atau saling member pengeruh terhadap kehidupan, baik aspek ekonomi, sosial, pertanian, politik dan lainnya, menjadi situasi yang sangat krisis besar terjadi secara simultan dan memperkuat dampak terhadap sistem ekonomi, sosial, dan lingkungan global.

Fenomena tersebut bertujuan untuk menjelaskan kopleksitas kehidupan modern yang tidak bisa lagi dipahami secara terpisah menjadi satu problem global yang menimbulkan tekanan pada masyarakat global yang berdampak pula pada masyarakat lokal.

Krisis global ganda saat ini menjadi semakin nyata ketika perubahan iklim, degradasi lingkungan, dan ketidakstabilan, ekonomi global secara stimultan, mempengaruhi sistem produksi pangan dunia.

Baca Juga: Rektor IAIN Ternate Lantik 11 Pejabat Baru, Target Besar Transformasi ke UIN

Sistem pertanian yang selama ini menjadi tulang punggung pemenuhan kebutuhan pangan global tidak lagi berada dalam kondisi stabil, karena menghadapi tekanan yang sangat besar baik dari sisi ekonomi maupun dari sisi ekologis. Bergagai laporan ilmiah menunjukan bahwa perubahan iklim telah meningkatkan frekuensi, kejadian cuaca hujan yang tidak menentu, banjir, dan badai yang secara langsung mempengaruhi produktifitas pertanian diberbagai belahan dunia.

Disisi lain ketidak stabilan ekonomi global yang dipicu oleh konflik geopolitik dunia, krisis regional dan ganguan rantai pasok telah menyebabkan lonjakan harga pangan dan meningkatkan resiko kerawanan pangan dibanyak negara.

Kondisi tersebut menunjukan bahwa sistem pangan global saat ini berada dalam situasi yang sangat rentan dan dan membutuhkan transformasi mendasar agar mampu bertahan menghadapi dinamika krisis global ganda yang semakin kompleks.

Baca Juga: Resmi! Partai Persatuan Pembangunan Ternate Punya Nahkoda Baru

Krisis perang Ukraina-Rusia bukan hanya berdampak pada aspek geopolitik dunia namun berdampak pula pada krisis pangan demian pula perang AS-Israel terhadap Iran dapat memberikan krisis global yang berpengaruh pada stabilitas ekonomi, politik, energi, dan pangan.

Analisi teoritis, bahwa model adikuasi tidak melihat pertanian sebgai pabrik, melainkan sebagai metabolisme terbuka. Sebagai alternative dalam pembangunan pertanian berkelanjutan.

Paradigma Adikuasi menekankan bahwa tujuan utama sistem pertanian seharusnya bukan semata-mata memaksimalkan produksi atau keuntungan ekonomi, tetapi memastikan bahwa kebutuhan dasar manusia terhadap pangan dapat terpenuhi secara cukupz adil, dan berkelanjutan.

Dalam konteks negara berkembang seperti Indonesia penerapan paradigm adikuasai dalam pembangunan pertanian memiliki potensi besar, Indonesia memiliki kekayaan sumber daya alam dan keanekaragaman hayati menjadi dasar bagi perkembangan sistem pertanian berkelanjutan.

Baca Juga: Jelang Porprov Malut, Halmahera Utara Siap All Out Jadi Tuan Rumah!

Masyarakat pedesaan di Indonesia termasuk di Maluku utara memiliki berbagai berbagai bentuk kearifan lokal dalam pengelolaan sunber daya alam yang dapat mendukung penerapan prinsip kecukupan dalam pertanian

Indikator Adikuasi dalam mengelola pertanian berkelanjutan diantaranya: Pertama model integritas Bio-Fisika mengembalikan fungsi tanah sebagai Carbon Sink (penyerap karbon) dan penyaring air alami, menekan pentingnya menjaga keseimbangan antara komponen biologis dan fisik tanah agar fungsi ekologis tanah tetap berjalan. Pertanian yang berkelanjutan sangat bergantung pada kesehatan tanah serta berlangsung secara harmonis sehingga tanah mampu menjalankan fungsi ekologisnya secara optimal (FAO,2025).

Kedua Kedaulatan Nilai Ekonomi, Pertanian dapat menciptakan sistem harga yang mencerminkan biaya ekologis riil, bukan sekedar angka spekulatif di pusat perdaganggan, konsep ini menekankan bahwa nilai ekonomi dalam sistem pertanian seharusnya tidak sepenuhnya ditentukan oleh mekanisme pasar global. Tetapi juga oleh kebutuhan, kepentingan, dan nilai-nilai yang hidup dalam pasar lokal.

Kedaulatan nilai ekonomi memberikan runag bagi komunitas petani untuk menentukan sendiri bagaimana sumber daya pertanian mereka dikelolah serta bagaimana nilai ekonomi dari hasil produksi mereka didistribusikan.

Baca Juga: Hanya 3 Kursi DPR RI, Partai NasDem Malut Sebut Pusat Diskriminatif!

Ketiga Kualitas Nutrisi pangan, peningkatan produksi pangan secara kuantitatif tidak selalu diikuti dengan peningkatan kualitas gizi makanan yang tersedia bagi masyarakat, sistem pangan global belum sepenuhnya mampu menyediakan pangan yang cukup secara kuantitatif serta kualitas secara nutrisi. sistem pangan modern mempengaruhi ketersediaan pangan, dan secara langsung mempengaruhi kesehatan masyarakat melalui kualitas nutrisi dari makanan yang dikonsumdi.

Krisi global ganda dapat dihadapi dan dijalani secara Adikuasi sebagai eksekutor transformasi ekonomi pertanian berkelanjutan melalui tiga pilar

  1. Paradigma Eco-Efficiency & Regenerasi. Konsep eco-effecincy muncul sebagai salah satu pendekatan penting dalam pembangunan berkelanjutan yang berupa mengintegrasikan efesiensi ekonomi dengan keberlanjutan lingkungan
  2. Teknologi Tepat Guna & Digitalisasi Agraria. Teknologi tepat guna dirancang agar sesuai dengan kebutuhan kemampuan, serta kondisi sosial ekonomi masyarakat setempat.
  3. Kedaulatan pangan Lokal. Pangan memiliki nilai ekonomi sebagai komuditas produksi, makna sosial budaya dan pengetahuan tradisional yang penting dalam kehidupan masyarakat.

Editor: AbangKhaM

Silahkan Berbagi: